Fenomena “Selebrasi tanpa Prestasi”, Tren Haus Pengakuan
- 28 Mar 2026 11:56 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Fenomena “selebrasi tanpa prestasi” kian marak di era digital. Banyak individu berlomba menampilkan pencapaian di ruang publik, bahkan tak jarang membangun citra yang tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Hal ini menjadi bahasan utama dalam Ragam Budaya Bacangkurah RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 27 Maret 2026. Program tersebut menghadirkan Pemerhati Budaya Banjar Noorhalis Majid dan akademisi Arif Rahman Hakim sebagai narasumber.
Istilah lokal “mamuji pakasam saurang” diangkat sebagai representasi fenomena tersebut. Ungkapan ini menggambarkan perilaku seseorang yang memuji diri sendiri demi mendapatkan pengakuan, bahkan kerap mengabaikan fakta atau kontribusi orang lain.
Arif Rahman Hakim menyoroti bahwa media sosial menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat budaya tersebut. Menurutnya, platform digital mendorong individu untuk terus menampilkan citra diri yang terlihat berhasil demi mendapatkan pengakuan publik.
“Pujian bukan lagi sekadar bentuk apresiasi, tapi sudah menjadi kebutuhan eksistensi,” ujarnya. “Banyak orang merasa harus terlihat berhasil, meskipun belum tentu demikian.”
Ia menambahkan, kondisi ini berpotensi memicu tekanan sosial, terutama bagi generasi muda yang merasa harus selalu tampil sempurna di hadapan publik. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk lebih mengedepankan pencitraan dibandingkan pencapaian yang nyata.
Sementara itu, Noorhalis Majid mengingatkan bahwa budaya lokal sejatinya telah lama memberikan batasan etika dalam bersikap. Ungkapan “mamuji pakasam saurang” menjadi bentuk kritik sosial agar masyarakat tidak terjebak dalam perilaku haus pujian.
Ia menegaskan, selebrasi seharusnya menjadi hasil dari sebuah prestasi, bukan pengganti dari prestasi itu sendiri. Jika tidak, apresiasi akan kehilangan makna dan hanya menjadi formalitas belaka.
Diskusi ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat modern untuk lebih bijak dalam menampilkan diri. Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan eksistensi, nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi penyeimbang agar masyarakat tetap berpijak pada kejujuran dan integritas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....