Puasa Syawal dan Makna Lebaran Ketupat

  • 27 Mar 2026 19:04 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi indikator keberhasilan seorang mukmin dalam menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan. Ustaz H. Ibnu Arabi, S.Ag., M.Fil.I., menyatakan amalan sunah ini memiliki pahala setara dengan puasa selama satu tahun penuh.

Merujuk hadis Nabi Muhammad saw., Ustaz Ibnu Arabi menegaskan Syawal bukan akhir proses spiritual, melainkan tahap pembuktian keimanan. Ketupat yang disajikan pada hari kedelapan Syawal menjadi penanda selesainya rangkaian puasa sunah tersebut sebagai penyempurna kemenangan.

“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutkannya dengan enam hari Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun,” kata Ustaz Ibnu Arabi dalam siaran Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 27 Maret 2026.

Menurutnya, hal ini menunjukkan pentingnya kesinambungan atau istiqamah dalam menjalankan perintah agama. Konsistensi tersebut menjadi kunci dalam menjaga kualitas keimanan setelah Ramadan.

Ia juga menggarisbawahi tradisi Lebaran Ketupat perlu dibarengi pemahaman nilai “luberan” atau melimpahnya kepedulian sosial. Melalui zakat, sedekah, dan berbagi hidangan, umat Islam diajak memperkuat kohesi sosial serta empati terhadap sesama.

Baca juga: https://gayahidup.rri.co.id/banjarmasin/budaya/2289025/makna-filosofis-ketupat-dalam-tradisi-lebaran

Dalam perspektif pendidikan karakter, ketupat mengajarkan kesabaran melalui proses penganyaman janur yang teliti. Ustaz Ibnu Arabi menyebut setiap simpul anyaman menjadi pengingat agar manusia tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Ia menambahkan bahwa kesulitan hidup akan terasa ringan jika dihadapi dengan kesabaran. Hal ini dianalogikan seperti ketupat yang membutuhkan waktu lama untuk direbus hingga menghasilkan tekstur sempurna.

Kesabaran pasca-Ramadan dinilai menjadi kunci mempertahankan predikat takwa yang telah dibangun selama sebulan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak hanya larut dalam euforia perayaan, tetapi juga memahami nilai dakwah di balik tradisi tersebut.

Penuntasan puasa Syawal dan pemaknaan filosofi ketupat diharapkan melahirkan pribadi yang lebih pemaaf dan dermawan. Selain itu, umat juga diharapkan mampu menjaga kesucian lahir dan batin dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....