“Kasih Putus di Luhuk Badangsanak”, dan Cerita Mistis yang Mengiringinya
- 25 Mar 2026 10:53 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Alunan pelan lagu Banjar “Kasih Putus di Luhuk Badangsanak” kerap terdengar lirih, seolah membawa pendengarnya masuk ke lorong waktu yang penuh kenangan. Di balik nadanya yang sederhana, tersimpan kisah cinta yang kandas, luka yang dalam, dan duka yang tak lekang oleh zaman.
Lagu ini merupakan karya maestro lagu Banjar, Anang Ardiansyah, yang dikenal luas sebagai sosok pelestari budaya melalui musik. Lewat lirik-liriknya yang puitis, ia menghadirkan kembali cerita lama yang hidup dalam ingatan masyarakat Banjar kisah tentang cinta, kekuasaan, dan pengorbanan.
“Kasih Putus di Luhuk Badangsanak” bukan sekadar lagu tentang patah hati. Ia mengangkat legenda Banjar yang sarat konflik, melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Putri Junjung Buih dan Patih Lambung Mangkurat.
Dalam kisah tersebut, cinta yang tumbuh harus berhadapan dengan intrik kekuasaan, berujung pada perpisahan tragis hingga kehilangan yang menyisakan duka mendalam. Nuansa lagu yang sendu membuatnya sering dianggap memiliki aura yang berbeda.
Bagi sebagian masyarakat, lagu ini bukan hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Ada kesunyian yang menyelusup di setiap baitnya, seolah menyampaikan pesan bahwa luka masa lalu masih hidup dalam ingatan kolektif.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Hadzir, salah satu penyanyi Banjar yang pernah membawakan lagu tersebut. Ia mengaku, ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali menyanyikan lagu ini.
“Setiap membawakan lagu itu, suasananya berbeda. Kadang terasa sangat hening, seperti ada yang ikut mendengarkan. Bulu kuduk bisa merinding, tapi di saat yang sama, saya juga merasakan kesedihan yang sangat dalam,” ujar Hadzir Rabu, 25 Maret 2026.
Tak hanya saat menyanyikan, pengalaman tak biasa juga dirasakan Hadzir ketika proses produksi video klip lagu tersebut. Ia menceritakan adanya sejumlah kejadian yang sulit dijelaskan secara logika.
“Waktu syuting, beberapa kru mengaku melihat seperti penampakan prajurit kerajaan di sekitar lokasi. Bahkan ada yang melihat bayangan berbentuk seperti buaya putih di air. Suasananya memang terasa berbeda sejak awal,” ucapnya.
Keanehan lain juga diceritakan Hadzir tampak dalam tayangan video klip tersebut. Pada bagian sekitar menit 04.08 hingga 04.11, tubuh pemeran Patih Lambung Mangkurat terlihat lebih besar dari ukuran normalnya. Perbedaan visual ini menjadi perhatian sebagian penonton dan menambah kesan misterius yang menyelimuti lagu tersebut.
Pengalaman emosional yang lebih dalam bahkan ia rasakan seusai tampil membawakan lagu tersebut di atas panggung. Hadzir mengaku pernah mengalami kesedihan yang datang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
“Pernah setelah manggung, saya tiba-tiba merasa sedih sekali. Tidak tahu kenapa, rasanya dalam sekali sampai saya menangis sendiri. Padahal sebelumnya tidak ada apa-apa. Seperti terbawa suasana lagu itu,” ucapnya.
Bagi Hadzir, pengalaman-pengalaman tersebut semakin menegaskan bahwa lagu ini memiliki kekuatan emosional yang tidak biasa, seolah mampu menyentuh sisi terdalam perasaan manusia. Tak sedikit warga Banjar yang mengaku memiliki kenangan tersendiri dengan lagu ini.
Ada yang mengingatnya sebagai lagu pengantar masa kecil, ada pula yang merasakannya sebagai gambaran getir kehidupan. Lagu ini menjadi semacam ruang emosional, tempat rindu dan kehilangan menemukan suaranya.
Lebih dari sekadar hiburan, karya ini juga menjadi bagian penting dari warisan budaya Banjar. Ia menjaga cerita rakyat tetap hidup, menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui nada dan kata. Di tengah arus modernisasi, lagu ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah, tetapi juga dalam lagu yang terus dinyanyikan.
Secara filosofis, “Kasih Putus di Luhuk Badangsanak” mengajarkan bahwa tidak semua cinta berakhir bahagia. Ada kalanya takdir dan keadaan memaksa manusia merelakan apa yang paling berharga namun justru dari kehilangan itulah, lahir kekuatan untuk terus mengenang dan menghargai kehidupan.
Kini, meski zaman terus berubah, lagu ini tetap bertahan. Ia mengalun dari generasi ke generasi, membawa cerita lama yang tak pernah benar-benar usai. Di setiap baitnya, tersimpan pesan sederhana namun mendalam bahwa cinta, meski terputus, akan selalu menemukan caranya untuk dikenang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....