Ungkapan Banjar "Nang gatal dagu, nang digaru siku"
- 07 Mar 2026 12:16 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - "Nang gatal dagu, nang digaru siku” merupakan salah satu ungkapan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Sebuah ungkapan yang menggambarkan ketidak sesuaian antara kondisi masalah yang dihadapi dengan solusi dalam mengatasinya.
Hal tersebut disampaikan Noorhalis Majid dalam Ragam Budaya 'Bacangkurah" di Pro 4 RRI Banjarmasin, Jumat, 6 Februari 2026. Menurutnya, makna ungkapan 'nang gatal dagu, nang digaru siku sebenarnya ada juga di daerah lain.
Ungkapan tersebut lebih konkret karena letak antara dagu dan siku jauh. Sebuah gambaran antara masalah dan solusi yang tidak sesuai.
"Jika dagu dan pipi mungkin masih dekat, ini dagu dengan siku. Dan dalam kenyataannya seringkali antara masalah dengan solusi tidak sinkron. Maka itulah pentingnya perencanaan dan pengawasan yang ketat," ujar Noorhalis Majid, penulis aktif yang sudah membukukan Peribahasa dan ungkapan Banjar.
Dikatakan, segala persoalan itu bisa dituntaskan, termasuk keputusan-keputusan pribadi yang sering salah. Jika itu yang terjadi mungkin hanya akan merugikan diri pribadi.
Namun beda halnya jika solusi tidak sesuai dengan masalah yang menyangkut sebuah institusi, pemerintah atau hal lebih luas lainnya. Hal itu tentu masalahnya tidak akan selesai dari waktu ke waktu.
"Antara masalah dan solusi yang tidak sinkron membuat persoalan tidak pernah benar-benar selesai. Ya, ibarat yang gatal dagu tapi yang digaruk siku, tentu tidak akan terasa manfaatnya. Begitu juga dalam kehidupan, problem dan solusi harus saling berkaitan,” ujarnya menjelaskan
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi ketidaksesuaian antara kebutuhan dan tindakan. Sebagai contoh sederhana adalah saat yang diperlukan beras untuk makan tapi justru membeli sepatu.
Ini adalah solusi yang tidak menjawab kebutuhan. Demikian juga dalam konteks kebijakan publik, problem masyarakat seharusnya dijawab dengan kebijakan yang tepat.
"Penyelesaian masalah itu harus disertai kompetensi dan konsistensi. Monitoring dan evaluasi harus benar-benar dilakukan agar kebijakan tetap sejalan. Dengan demikian maka tidak lagi terjadi kondisi 'nang gatal dagu, nang digaru siku,” kata Noorhalis Majid diakhir Ragam Budaya Bacangkurah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....