Mengenal Artefak Sungai di Museum Kayuh Baimbai
- 24 Feb 2026 21:52 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin, Sabtu 21 Februari 2026, mengangkat obrolan seputar “Artefak Museum Kayuh Baimbai”. Komunitas Palalah diwakili oleh Erwin dan Arif memperbincangkan mengenai jejak sejarah Kota Banjarmasin melalui koleksi museum.
Erwin dan Arif berbagi pengalaman “balalah” ke museum yang berlokasi di kawasan Kelayan tersebut. Sekaligus keterlibatan mereka dalam kegiatan bimbingan teknis (BIMTEK) bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Banjarmasin.
Museum ini Kayuh Baimbai memiliki kekhasan sebagai ruang yang merekam kehidupan masyarakat sungai,. Berbeda dengan Museum Wasaka yang lebih menonjolkan koleksi perjuangan revolusi fisik.
“Ciri khasnya ada pada nuansa kehidupan sungai. Dari miniatur jukung, meriam, sampai jangkar besar yang ditemukan warga saat proyek renovasi,” jelas Arif. I
Arif mengatakan, sejumlah artefak yang kini dipajang berasal dari temuan tak sengaja saat penggalian atau pembenahan infrastruktur di Kota Banjarmasin. Sementara Erwin menyoroti artefak pengayuh atau dayung tua yang memiliki ukiran unik dan diduga berasal dari periode sangat awal. Bbahkan sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara.
“Ada motif ukiran yang masih terlihat jelas. Ini sedang diusulkan menjadi cagar budaya karena nilai sejarahnya tinggi,” ujarnya.
Selain itu, terdapat batu penggiling, lesung tua, hingga berbagai senjata tradisional seperti keris dan tombak yang memperkaya narasi museum. Menurutnya, proses pelabelan dan pendataan masih terus dilakukan agar setiap benda memiliki informasi yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.
Dalam sesi interaktif, seorang pendengar dari Tamban KM.18 bernama Syarbani menanyakan keberadaan singgasana emas Kerajaan Banjar. Menanggapi hal itu, Arif menjelaskan bahwa yang tersimpan di museum umumnya merupakan replika, sementara benda asli banyak yang telah diamankan di pusat.
“Replikanya sangat mirip karena dibuat oleh pengrajin ahli sesuai data sejarah,” katanya.
Menutup dialog, Komunitas Palalah menegaskan pentingnya museum sebagai laboratorium sosial dan humaniora bagi generasi muda. Mereka berharap masyarakat tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami cerita di balik artefak.
“Kalau kita tidak menarasikan sejarah sendiri, siapa lagi,” ucap Erwin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....