Perang Kembang Dimaknai Refleksi Pengendalian Hawa Nafsu
- 19 Feb 2026 21:45 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin : Perspektif menarik tentang Perang Kembang dalam adegan klasik wayang dimaknai sebagai refleksi laku spiritual manusia dalam mengendalikan hawa nafsu. Hal ini menjadi topik dialog Budaya dalam acara Sambung Roso RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu 18 Februari 2026.
Dalam acara tersebut Ki Sulisno menjelaskan bahwa Perang Kembang tidak hanya berbicara tentang pertarungan ksatria melawan raksasa, tetapi tentang perjuangan manusia melawan dorongan biologis, ambisi duniawi, serta ledakan emosi. Empat raksasa menjadi simbol nafsu lawwamah, supiah, amarah, dan mutmainah yang selalu hadir dalam diri manusia.
“Nilai dalam Perang Kembang memiliki persinggungan kuat dengan praktik puasa dalam Islam. Puasa melatih manusia menahan makan, minum, dan amarah, sebuah bentuk nyata dari pertarungan batin yang divisualisasikan dalam wayang. Dengan demikian, seni tradisi dan nilai spiritual bertemu dalam satu pesan yang sama yaitu pengendalian diri,” ujarnya.
Selain dimensi religius, Perang Kembang juga memiliki fungsi pedagogis. Dalang menyampaikan ajaran moral melalui simbol dan gerak tanpa kesan menggurui. Pertunjukan menjadi media pendidikan karakter yang halus namun mengena, terutama bagi generasi muda yang mulai jauh dari akar budaya.
Melalui dialog “Sambung Roso”, Ki Sulisno mengajak masyarakat untuk tidak hanya menonton wayang sebagai hiburan, tetapi memaknainya sebagai tuntunan etis. Perang Kembang menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar manusia bukan pada fisik atau kekuasaan, melainkan pada kemampuan menjaga hati dan menata diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....