Perang Kembang, Simbol Pertarungan Batin
- 19 Feb 2026 21:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin : Adegan Perang Kembang atau dikenal juga sebagai Bambangan Cakil kembali menjadi pembahasan menarik dalam program Ragam Budaya “Sambung Roso” Pro4 RRI Banjarmasin bersama Ki Sulisno.
Perang Kembang dipahami bukan sekadar pertunjukan dramatik dalam wayang, tetapi sebagai simbol pertarungan batin manusia melawan hawa nafsu.
Ki Sulisno menjelaskan, empat raksasa yang dihadapi ksatria bambangan yaitu Buta Cakil, Buta Terong, Buta Babrah, dan Buta Rambut Geni melambangkan dorongan dalam diri manusia. Nafsu lawwamah, supiah, amarah, hingga mutmainah digambarkan sebagai kekuatan yang terus bergulat dalam batin setiap individu. Figur Cakil menjadi representasi paling kuat dari angkara murka yang liar dan tak terkendali.
“Dalam pementasan, kontras gerak menjadi pesan visual yang kuat. Ksatria bergerak lembut, anggun, dan terukur, sementara raksasa tampil kasar dan eksplosif.,” ujarnya
Ia menambahkan, “perbedaan ini bukan sekadar estetika panggung, melainkan metafora tentang pentingnya kejernihan hati dalam menghadapi gejolak emosi.”
Lebih jauh, simbol panah atau manah dimaknai sebagai hati. Pengendalian diri, tidak dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan kebijaksanaan batin. Filosofi ini selaras dengan ajaran Jawa tentang keseimbangan hidup atau rwa bhineda, di mana harmoni harus dipulihkan saat kekacauan muncul.
Di tengah kehidupan modern yang penuh ambisi, kompetisi, dan tekanan sosial, Perang Kembang dinilai tetap relevan. Pesan yang dihadirkan sederhana namun mendalam, kemenangan sejati bukanlah menundukkan orang lain, tetapi menaklukkan diri sendiri. Sebuah nilai budaya yang terus hidup dan layak diwariskan lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....