"Kenduren Megengan" Tradisi Desa Karang Bunga Batola Sambut Ramadan

  • 17 Feb 2026 21:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Batola — Setiap menjelang bulan Ramadan, Desa Karang Bunga, Kabupaten Barito Kuala, melaksanakan tradisi Kenduren Megengan atau selamatan hari besar. Kegiatan ini dilaksanakan pada malam hari pada setiap RT di Desa Karang Bunga dengan dihadiri warga dan tokoh agama setempat sembari membawa hidangan berkat untuk didoakan.

Kegiatan berlangsung khidmat dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kenduren Megengan dilaksanakan secara turun-temurun sebagai tradisi rasa syukur dan sedekah sebelum memasuki bulan Ramadan, sekaligus memohon keberkahan dan keselamatan bagi lingkungan sekitar gang maupun desa.

Sugianto selaku tokoh agama di Desa Karang Bunga yang bertempat tinggal di RT 16 mengatakan bahwa Kenduren Megengan ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. Terutama karena diberikan kesehatan dan iman menjelang bulan Ramadan.

“Kenduren Megengan ini kita lakukan sebagai bentuk syukuran kepada Allah Swt karena diberikan kesehatan, iman, rezeki, dan kesempatan pada malam yang besar ini untuk berkumpul membaca doa dan bersedekah dalam bentuk berkat yang akan kita bagikan." ujar Sugianto. "Selain itu, doa juga dikirimkan kepada almarhum-almarhum yang telah mendahului kita."

Esthi Iti selaku Ketua RT 16 Desa Karang Bunga menyampaikan bahwa Kenduren megengan ini mengikuti tradisi nenek moyang yang terus dilestarikan. Hal itu karena mengandung banyak makna sosial, budaya, dan agama di dalamnya.

Makna sosial Kenduren atau selamatan ini adalah untuk saling bersilaturahmi serta pembagian berkat yang telah didoakan untuk dibagikan sebagai persiapan sahur. Selain mengandung makna budaya dalam istilah Kenduren Megengan.

“Dalam makna budayanya terdapat dua filosofi. Pertama, kata ‘megeng’ berasal dari kata ‘ageng’ yang berarti besar atau agung, yang memaknai bahwa kita akan menyongsong hari besar, yaitu bulan Ramadan," ucap Esthi. "Filosofi kedua berasal dari kata ‘megeng’ yang berarti menahan, yang memaknai bahwa kita akan menjalani Ramadan dengan tujuan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu."

Di setiap daerah, tradisi Kenduren Megengan memiliki tata cara yang berbeda. Di Desa Karang Bunga, tata cara tersebut telah mengalami penyesuaian dengan kondisi masa kini. Dahulu, megengan dilaksanakan di rumah masing-masing warga, namun sekarang, khususnya di RT 16, kegiatan dilaksanakan di rumah Ketua RT untuk mengefisienkan waktu dan biaya.

Harapan Sugianto selaku tokoh agama dan Esthi Iti sebagai Ketua RT 16, tradisi Kenduren Megengan ini dapat terus dilestarikan. Hal ini untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan inti dari maknanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....