Adat Minang Menguatkan Silaturahmi di Tanah Rantau

  • 18 Feb 2026 07:56 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Sebuah pantun penyambutan yang hangat disuguhkan acil Ratu untuk tamu dari Ranah Minang yang disapa dengan panggilan uda. Ini sebagai awal pembuka siaran Ragam Budaya Pro4 RRI Banjarmasin, menandakan kedekatan lintas suku di Banjarmasin.

Uda Wendi kemudian berbagi cerita tentang tradisi merantau yang sudah mengakar dalam budaya Minangkabau. Menurutnya, sejak dahulu banyak anak muda Minang, terutama dari keluarga petani, didorong merantau demi mengubah nasib keluarga.

“Merantau itu bagian dari proses hidup kami. Filosofi hidup kami itu adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi pedoman agar tetap menjaga adab dan agama di tanah rantau,” katanya, Senin, 16 Februari 2026.

Siaran Ragam Budaya Ikatan Kerukunan Antar Suku Bangsa (IKASBA) menghadirkan Masrani Noor yang akrab disapa guteh dari KK Madura, Rakhmat Basuki dari KK Jawa Tengah dan Acil Ratu dari KK Banjar. Hadir pula Wendi Anas, Ketua KK Sumatera Barat sekaligus Ketua Perkumpulan Urang Awak Saiyo Sakato, dengan topik pembahasan “Silaturahmi Urang Awak di Tanah Rantau.”

Rahmat Basuki juga menyampaikan pengalamannya saat menghadiri acara silaturahmi KK Sumatera Barat. Dirinya mengaku merasakan kehangatan yang kuat di antara sesama warga Minang, meskipun dirinya berasal dari Jawa.

“Saya ini orang Jawa, tapi setiap datang ke acara KK Sumbar rasanya seperti keluarga sendiri. Hangat sekali,” ujarnya.

Kekaguman lainnya, yakni pada masakan Minang yang menurutnya terasa lebih autentik saat disajikan langsung dalam acara kekeluargaan dibandingkan di rumah makan. Masrani juga berbagi kisah pribadi yang membuatnya dekat dengan budaya Minangkabau.

Masrani pernah memiliki ayah angkat asli Minang semasa remaja. Karena itu dirinya mengaku cukup akrab dengan adat, tradisi, hingga kuliner khasnya.

“Dari situ saya belajar bagaimana kuatnya adat dijaga dan bagaimana persaudaraan itu dirawat,” ujarnya.

Di akhir siaran, uda Wendi menegaskan identitas urang awak yang lekat dengan Islam. “Urang awak itu 100 persen Muslim. Kalau ada yang pindah agama, dalam adat sudah tidak dianggap bagian dari urang awak,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....