Menhut Ingatkan Ancaman Karhutla saat Puncak Kemarau
- 24 Agt 2026 11:16 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih tinggi menjelang puncak kemarau September 2026.
- Kondisi kemarau saat ini memiliki kemiripan dengan fenomena El Niño pada 2015 yang menyebabkan kebakaran berdampak pada 2,6 juta hektare lahan di Indonesia.
- Fenomena El Niño yang masih berlangsung menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko terjadinya karhutla di berbagai wilayah Indonesia.
Video
RRI.CO.ID, Banjarbaru – Puncak kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September 2026 menjadi perhatian serius Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni. Saat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Minggu, 23 Agustus 2026, ia mengingatkan potensi karhutla masih tinggi seiring fenomena El Nino yang masih berlangsung.
Raja Juli mengatakan kondisi kemarau saat ini memiliki kemiripan dengan fenomena El Nino pada 2015 yang memicu karhutla hebat di Indonesia. Saat itu, kebakaran berdampak terhadap sekitar 2,6 juta hektare lahan dan menimbulkan berbagai gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Menurut Raja Juli, dampak karhutla tidak hanya berupa kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut dapat memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta mengganggu operasional bandara, sekolah, hingga pasar.
Raja Juli menambahkan, puncak El Nino juga berpotensi memicu krisis pasokan air karena kekeringan ekstrem dapat menurunkan debit air yang digunakan untuk pemadaman. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia meminta BPBD sebagai leading sector memetakan wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih maupun air untuk kebutuhan pemadaman.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah titik api di Kalsel sempat mencapai 157 titik pada Jumat, 21 Agustus 2026, kemudian turun menjadi 11 titik pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Namun, pada Minggu, 23 Agustus 2026 pukul 06.00 Wita, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 44 titik yang tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....