Kemarau Panjang, Pembudidaya Ikan Banua Anyar Merugi
- 14 Agt 2026 08:58 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Musim kemarau menyebabkan kematian massal ikan keramba jaring apung di Banua Anyar, Banjarmasin, akibat penurunan debit dan perubahan kualitas air sungai.
- Pembudidaya Salamiah kehilangan lebih dari 480 kilogram ikan patin dengan kerugian materiil diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 juta.
- Dampak musim kemarau tahun ini merupakan kondisi terparah yang dialami pembudidaya ikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Video
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Musim kemarau mulai berdampak terhadap budidaya ikan keramba jaring apung di kawasan Banua Anyar, Banjarmasin. Ratusan kilogram ikan milik pembudidaya mati mendadak akibat penurunan debit dan perubahan kualitas air sungai.
Salah seorang pembudidaya, Salamiah, mengalami kerugian setelah lebih dari 480 kilogram ikan patin miliknya mati. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi kejadian terparah dibandingkan dampak musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya dengan kerugian materiil diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 juta.
Salamiah yang memiliki 32 keramba jaring apung kini melakukan sejumlah langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kematian ikan. Selain memantau kualitas air, ia mengosongkan sebagian keramba untuk mengurangi kepadatan ikan dan menjaga ketersediaan oksigen.
Koordinator Penyuluh Perikanan DKP3 Banjarmasin, Roslina, mengatakan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang memicu kematian ikan. Ia mengimbau pembudidaya rutin memantau kondisi air, mengatur kepadatan ikan, serta menyesuaikan pola pemberian pakan selama musim kemarau.
Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau di Kalimantan Selatan diprediksi terjadi pada September 2026. Kondisi cuaca kering yang berlangsung cukup panjang tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap keberlangsungan usaha budidaya perikanan di Kota Banjarmasin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....