Kasus ISPA di Kalsel Meningkat, Dinkes Perkuat Layanan Kesehatan

  • 03 Agt 2026 14:01 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Kasus ISPA di Kalimantan Selatan mencapai sekitar 7.000 kasus hingga Juli 2026, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya akibat intensifikasi kabut asap dari karhutla.
  • Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, dr. Diauddin, mengonfirmasi peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak kabut asap menyelimuti sejumlah daerah di wilayah tersebut.
  • Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi karena kombinasi faktor kepadatan penduduk tinggi dan dampak langsung kabut asap.
Video

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Meningkatnya intensitas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga Juli 2026 mencapai sekitar 7.000 kasus atau meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, dr. Diauddin, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak kabut asap menyelimuti sejumlah daerah. Menurutnya, wilayah dengan jumlah kasus tertinggi masih didominasi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar yang memiliki kepadatan penduduk tinggi sekaligus terdampak kabut asap.

Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan.

Selain upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kalsel mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp16 miliar dalam rapat bersama Badan Anggaran DPRD Kalimantan Selatan. Anggaran tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas layanan kesehatan dalam menghadapi dampak bencana kabut asap.

Dari total usulan anggaran tersebut, sekitar Rp1 miliar diprioritaskan untuk memperkuat Pusat Krisis Kesehatan yang berperan dalam penanganan kondisi darurat, termasuk dampak kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat selama musim kabut asap berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....