Kayu Bakar Mulai Tergerus Zaman

  • 01 Agt 2024 07:29 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Dahulu kayu bakar sangat diandalkan sebagai sumber energi di dalam rumah tangga. Kayu bakar umumnya digunakan untuk memasak air dan makanan utama bahkan sebagai penting untuk penghangat tubuh.

Semua jenis bahan kayu yang dapat dijadikan bahan bakar bisa disebut dengan kayu bakar. Ciri utama tampilan kayu bakar adalah masih terdapat kulit kayu, mata kayu, dan bagian kayu lain karena pada umumnya.

Kayu ini memang tidak diproses terlebih dahulu cukup dikeringkan lalu kemudian dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki.Kayu bakar diminati karena mudah dicari, harganya murah, banyak rumah tradisional yang memiliki tungku pembakaran di dapurnya dan yang pasti cita rasa masakan menjadi lebih lezat apabila memasak menggunakan kayu bakar.

Tidak semua kayu bagus dipakai karena kayu menghasilkan asap dan aroma berbeda yang dapat mempengaruhi masakan. Kayu yang memiliki getah sangat dihindari untuk penggunaan kebutuhan memasak.

Namun kini kayu bakar tak lagi dilirik, sebab polusi udara yang dihasilkan lebih tinggi daripada gas elpiji. Asap pembakarannya pun ternyata berbahaya bagi penghuni rumah jika dihirup atau terpapar mata karena terdapat kandungan uap dan partikel jahat yang tersuspensi di udara.

Ini sangat berdampak pada kesehatan manusia khususnya anggota keluarga. Selain isu kesehatan, kayu bakar juga dianggap sebagai pencetus degradasi lahan setelah masifnya pemanfaatan kayu komersial.

Larangan terhadap pemanenan kayu bakar justru akan menyulitkan masyarakat miskin dan ini tidak menyelesaikan masalah utama dari deforestasi yang sesungguhnya seperti ekspansi pertanian besar-besaran. Akibatnya lambat laun, penggunaan kayu bakar semakin tergerus oleh modernisasi sumber bahan bakar seperti minyak tanah dan gas elpiji.

Meskipun karbon yang dihasilkan sama bagusnya dan justru alami (netral) daripada sumber bahan bakar fosil. Padahal kelak tungku kayu dapat saja direkayasa sedemikian rupa agar terhindar dari masalah kesehatan.

Bahan bakar fosil tidak dapat diperbaharui, dan justru dapat membuat lingkungan menjadi tercemar. Sumber bahan bakar fosil tersebut juga dapat habis cadangannya, sedangkan kayu bakar adalah sumber bahan bakar “terbarukan” yang akan ada selamanya apabila pohon ditanam secara terencana dan dipanen dengan model berkelanjutan.

Akankah usaha kayu bakar dapat bertahan di tengah ramainya masyarakat latah melakukan konversi ke gas elpiji ? Permintaan pasar yang terus menurun membuat pelaku bisnis penggergajian kayu bakar harus menelan pil pahit. Kini mereka harus beralih usaha untuk memenuhi permintaan pasar yang masih berkaitan dengan potongan kayu lainnya, seperti kebutuhan kayu palet, kayu kemasan ekspedisi, peti buah, dan lain sebagainya.

“Kayu bakar biasanya kami jual Rp.1.200 per ikat ke warung-warung, lalu mereka menjual kembali ke masyarakat dengan kisaran harga Rp.2.000 sampai Rp.2.500 per ikatnya,“ ujar Aman, pemilik usaha penggergajian kayu di wilayah Pulau Sewangi Alalak.

Kini, kayu bakar hanya dapat dijumpai pada warung kecil yang ada di daerah pelosok atau wilayah yang sulit dijamah oleh distributor gas elpiji. Jika sampai berhasil menjual ke kota besar, peruntukannya hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan api unggun bagi mereka yang hobi berkemah, karena kayu bakar hampir tidak lagi digunakan sebagai sumber energi utama untuk memasak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....