Merdeka dalam Toleransi, Menghargai Perbedaan Tanpa Diskriminasi
- 28 Agt 2026 13:23 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Merdeka dalam toleransi dapat dimaknai sebagai kebebasan setiap individu untuk saling menghormati, memahami, dan menghargai perbedaan. Kebebasan tersebut diwujudkan tanpa adanya rasa takut, paksaan, maupun perlakuan diskriminatif terhadap orang lain.
Duta Pencegahan dan Eks Napiter, Taklis Auzan, mengatakan dirinya pernah memiliki cara pandang yang melihat dunia secara hitam dan putih. Pandangan tersebut membuatnya menganggap bahwa kelompok yang diikutinya merupakan kelompok yang paling benar dibandingkan kelompok atau orang lain.
Hal tersebut disampaikan Taklis dalam acara Moderasi Beragama yang digelar pada Selasa, 18 Agustus 2026. Ia mengaku pengalaman berada dalam lingkungan dengan cara pandang yang demikian menjadi salah satu pelajaran penting dalam kehidupannya.
Menurut Taklis, pengalaman tersebut membuat dirinya memahami bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap kelompok lain salah atau lebih rendah. Sikap terbuka dan kemampuan memahami perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang toleran.
“Dari pengalaman itulah saya mengambil pelajaran bahwa intoleransi tidak selalu datang dengan wajah kebencian dan tidak selalu tampil dalam bentuk keburukan,” ujar Taklis.
Ia mengaku mengalami sendiri proses tersebut. Taklis mengatakan dirinya mulai terpapar paham tersebut ketika masih duduk di kelas 3 SMP pada 2014, saat konflik di Suriah menjadi perhatian dan banyak diberitakan.
“Pada saat melihat berita itu mengikuti dan tanpa ada dialog dengan orang yang mungkin lebih berilmu maupun orang tua, jadi menerima paham itu 100% langsung masuk ke dalam diri saya , akhirnya apa? Yang saya terima adalah menuju kepada jalan yang salah.” Ujarnya menambahkan
Taklis kembali menambahkan media sosial juga memang betul membuat rentan untuk anak - anak muda, apalagi di zaman yang saat ini anak kecil pun sudah punya gadget, terkadang juga berseliwaran di Tik Tok.
“Sering ada video dengan musik jedak -jeduk tapi dia menampilkan tokoh - tokoh yang berpaham radikal seperti itu, yang mungkin bisa menjadi panutan atau bisa menjadi idola bagi anak - anak yang tidak paham latar belakang orang tersebut.” Ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....