Tren Melahirkan di Usia Matang Bantu Tekan Angka Kematian Bayi di Kalsel

  • 16 Mei 2026 11:58 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjar - Ada fenomena menarik di balik laporan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Provinsi Kalimantan Selatan. Bukan sekadar jumlah penduduk yang bertambah. Namun terjadi pergeseran fundamental pada profil ibu melahirkan di Bumi Lambung Mangkurat.

Dalam data resmi yang dirilis BPS Kalsel pada 5 Mei 2026 lalu tersebut, terlihat para ibu di Kalsel kini cenderung terlihat lebih matang . Terutama saat memutuskan memiliki buah hati.

Tren ini menggantikan pola satu dekade lalu, di mana puncak kelahiran didominasi oleh kelompok usia yang lebih muda. Menariknya, pergeseran usia melahirkan ke arah yang lebih matang ini berbanding lurus dengan terjun bebasnya Angka Kematian Bayi (IMR) di Kalsel.

IMR yang pada 2010 masih berada di angka 34,00, kini berhasil ditekan hingga ke level 14,70 per 1.000 kelahiran hidup. Usia 30-an merupakan fase di mana seorang perempuan umumnya telah mencapai stabilitas, baik secara mental maupun finansial.

Hal ini berdampak langsung pada kesadaran terhadap kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi selama kehamilan. Hingga pemilihan fasilitas persalinan yang layak.

Data ini diperkuat dengan fakta di lapangan. Kota Banjarbaru, yang memiliki tingkat fertilitas rendah (2,11) dan didominasi penduduk dengan tingkat pendidikan serta ekonomi yang lebih mapan, mencatatkan angka kematian bayi terendah di Kalsel, yakni hanya 10,92. Faktor lain yang turut mendorong tren positif ini adalah keberhasilan menekan angka kelahiran pada usia remaja (15–19 tahun).

Jika pada 2010 angkanya masih di angka 55,00, hasil SUPAS 2025 menunjukkan angka tersebut anjlok menjadi 19,80. Penurunan kelahiran di usia remaja ini menjadi kunci vital. Melahirkan di usia terlalu muda secara medis memiliki risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi bagi bayi.

Dengan semakin sedikitnya remaja yang melahirkan, otomatis angka kematian bayi secara agregat ikut berkurang. Fenomena ini menarik perhatian akademisi.

Pakar psikologi dari Universitas Lambung Mangkurat, Rika Vira Zwagery mengatakan, kematangan psikologis merupakan salah satu kunci penting dalam pengasuhan anak yang terjadi dimulai saat masa prenatal. Kematangan psikologis ini didalamnya termasuk pengetahuan dan keterampilan mengenai pengasuhan, kemampuan regulasi dan mengatasi masalah (problem solving).

“Pada intinya adalah kemampuan untuk melakukan manajemen diri,” katanya Sabtu 16 Mei 2026.

Terkait penurunan angka kematian bayi pada data tersebut, Rika menilai bahwa fenomena ini kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor. “Mulai dari usia ibu, usia kehamilan yang matang dan kondisi fisik yang baik adalah faktor utamanya,” katanya.

Selain itu, penurunan angka tersebut menurutnya juga dipengaruhi oleh pengetahuan tentang kehamilan yang baik dari si orang tua. “Hal ini berkesinambungan dengan kemudahan akses informasi terkait pengasuhan, sehingga mereka (orang tua) bisa memiliki keterampilan pengasuhan yang optimal” ujarnya

Kemudian, faktor lain yang juga mempengaruhi angka kematian bayi adalah parenting sense of competence. “Faktor ini adalah penilaian dan keyakinan orang tua mengenai kemampuan mereka dalam menjalankan peran sebagai pengasuh,” ujar alumni Master of Psychology Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Semua itu jelas Rika, berpengaruh terhadap kemampuan untuk bertahan dalam tekanan menghadapi, mengatasi, dan bangkit kembali dari kesulitan, tekanan, atau kesulitan hidup. Kendati demikian, dalam tren yang menunjukkan tren ‘Ibu Matang, Bayi Sehat’ tersebut masih menyisakan tantangan di beberapa wilayah.

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), angka kematian bayi masih tercatat di angka 20,84, tertinggi di Kalsel. Hal ini mengindikasikan bahwa kematangan usia ibu juga harus didukung dengan pemerataan akses fasilitas kesehatan yang mumpuni di seluruh kabupaten/kota.

“Literasi mengenai pengasuhan mulai berkembang dan kesadaran mengenai pentingnya tumbuh kembang anak,” ucap Rika.

Sebab, ia melanjutkan, berdasarkan data terjadi penurunan trend pernikahan dini saat ini, kemungkinan terjadi karena peralihan prioritas pendidikan, karir, aktualisasi diri, serta kesiapan finansial sebelum berkeluarga. “Hal itulah kemungkinan menjadi salah satu penyebab penurunan angka kematian anak di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Kini, dengan struktur penduduk yang semakin berkualitas di level awal kehidupan (bayi), Kalsel memiliki modal kuat untuk mencetak generasi emas.

Syaratnya, tren positif kesehatan ibu dan anak ini harus terus dijaga, sembari pemerintah menyiapkan strategi untuk menghadapi fase penuaan penduduk (ageing population) yang juga mulai membayangi. Diakhir, Rika menyampaikan pesan pemting untuk para wanita yang akan menjadi calon ibu.

“Sebelum menikah sebaiknya mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis karena hal tersebut merupakan satu hal yang penting,” ucapnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....