Rahasia Cinta Rumi yang Mengguncang Semesta Bernilai Global
- 26 Jan 2026 12:14 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Jalaluddin Rumi bukan sekadar nama besar dalam sejarah pemikiran Islam. Sosok sufi kelahiran Balkh (kini Afghanistan) pada 30 September 1207 ini telah menjadi fenomena global yang melintasi sekat agama dan budaya.
Pemilik nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatihbi Al Bakri ini lebih dikenal dengan julukan "Rumi" karena menghabiskan sebagian besar hidupnya di Konya, wilayah yang dahulu disebut Rum. Tumbuh dalam keluarga berpendidikan tinggi di bawah asuhan ayahnya, Baharuddin Walad, Rumi matang dalam ilmu agama dan tradisi tasawuf.
Karya-karya besarnya seperti Matsnawi, Diwan Syamsi Tabriz, dan Fihi Ma Fihi kini menjadi warisan dunia yang terus dikaji.
Memikat Dunia Barat
Uniknya, gaung pemikiran Rumi justru sangat nyaring terdengar di dunia Barat. Di Amerika Serikat, karya-karya puisinya mencatat angka penjualan fantastis, bahkan dilaporkan melampaui para penyair kontemporer Barat.
Karya Rumi diterima secara luas; puisinya dibacakan mulai dari masjid, gereja, sinagog, hingga kampus-kampus universitas. Deretan figur publik dunia, seperti Madonna hingga Demi Moore, turut menjadi penikmat karya sang Maulana.
Penulis Andrew Harvey menggambarkan keistimewaan Rumi sebagai perpaduan langka: ia memiliki kedalaman spiritual setara Buddha atau Yesus, wawasan intelektual seluas Plato, serta keindahan bahasa sekelas Shakespeare.

Energi Cinta Semesta
Inti dari ajaran Rumi adalah cinta yang universal. Bagi Rumi, cinta adalah energi penggerak utama alam semesta. Tanpa cinta, dunia akan beku dan mati.
"Langit yang berputar, bergerak oleh deburan gelombang cinta," demikian salah satu pandangan Rumi yang menggambarkan betapa vitalnya peran cinta dalam eksistensi makhluk.
Senada dengan itu, pemikir Islam Fahruddin Faiz menafsirkan bahwa cinta sejati menurut Rumi ditandai dengan hilangnya ego. Seseorang belum bisa disebut mencintai dengan tulus jika masih berhitung untung-rugi.
Cinta sejati, dalam kacamata Rumi, tidak terpaku pada fisik semata, melainkan pada cahaya hati yang bersumber dari Ilahi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....