Ibu Bekerja Hadapi Dilema Karier dan Keluarga
- 14 Sep 2026 12:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin- Perempuan bekerja bukan hal baru dalam kehidupan masyarakat Banjar, namun peran tersebut kerap menghadirkan dilema antara tanggung jawab karier dan keluarga. Pembahasan “Ibu Bekerja: Karier dan Keluarga dalam Bingkai Islam dan Budaya Banjar” disiarkan melalui program Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin pada Jumat, 11 September 2026 dengan host Helda. Program tersebut menghadirkan Dr. Yulia Hairina, M.Psi., Psikolog dan Aulia Najira Putri sebagai narasumber.
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, Dr. Yulia Hairina, M.Psi., Psikolog, mengatakan dilema antara bekerja dan mendampingi anak merupakan hal yang wajar dialami ibu bekerja. Terlebih ketika kondisi tertentu membuat anak membutuhkan pendampingan lebih banyak.
Menurut Yulia, ibu kerap mengalami maternal guilt atau mom guilt, yakni perasaan bersalah karena merasa belum cukup memberikan waktu dan perhatian kepada anak. Perasaan tersebut perlu dikelola dengan mengubah cara pandang terhadap peran sebagai ibu sekaligus pekerja.
“Bekerja itu bukan satu hal yang pada akhirnya menurunkan kualitas dalam pengasuhan kita sebagai ibu,” kata Dr. Yulia.
Ia menjelaskan, ibu bekerja tidak harus mengukur keberhasilan pengasuhan berdasarkan banyaknya waktu yang tersedia. Kualitas interaksi bersama anak, dukungan pasangan, serta pembagian peran dalam keluarga menjadi bagian penting untuk menjaga keseimbangan.
Dr. Yulia menilai peran pengasuhan juga perlu dilakukan secara kolaboratif antara ayah dan ibu. Keluarga besar yang dapat membantu, seperti kakek dan nenek, juga dapat diberdayakan sebagai bagian dari support system bagi ibu bekerja.
“Jangan beban itu diletakkan di pundak ibu-ibu bekerja itu. Kasihan ibunya, karena dia akan kecapekan secara psikologis,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Psikologi Islam, Aulia Najira Putri, mengatakan generasi muda melihat peran ibu secara lebih luas. Menurutnya, ibu tidak hanya memiliki tanggung jawab di rumah, tetapi juga dapat mengembangkan diri melalui pendidikan dan pekerjaan.
Aulia mengatakan perempuan yang bekerja tetap perlu memperhatikan keseimbangan antara tanggung jawab dan kasih sayang kepada keluarga. Kesadaran terhadap kondisi diri juga penting agar ibu mampu mengenali batas kemampuan fisik dan mentalnya.
Menurut Dr. Yulia, menjaga kesehatan mental menjadi salah satu kunci agar ibu dapat menjalankan berbagai peran secara lebih seimbang. Ibu yang merasa lelah setelah bekerja dapat mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali mendampingi anak.
Ia menyarankan ibu bekerja yang jauh dari keluarga untuk membangun dukungan dari orang-orang terdekat. Pasangan, teman, maupun lingkungan sosial dapat menjadi tempat berbagi selama tetap memperhatikan batasan dalam berbagi persoalan pribadi.
Dalam perspektif budaya Banjar, Dr. Yulia menyebut perempuan bekerja memiliki akar sejarah yang panjang. Aktivitas perempuan berdagang di pasar terapung dan membawa hasil kebun sejak pagi menjadi gambaran ketangguhan perempuan Banjar dalam menopang kehidupan keluarga.
Karena itu, menurut Dr. Yulia, perempuan Banjar yang bekerja di kantor, sekolah, kampus, maupun rumah sakit saat ini dapat dipandang sebagai bagian dari kesinambungan sejarah perempuan Banjar yang tangguh dan mandiri secara ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....