Ba’ayun Maulid Jadi Tradisi Unik Masyarakat Banjar
- 10 Sep 2026 06:10 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin — Ba’ayun Maulid menjadi salah satu tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang memadukan unsur budaya dan nilai keagamaan. Tradisi ini dilakukan dengan mengayun anak, bahkan orang dewasa, sambil diiringi lantunan selawat dan syair bernuansa Islam.
Tradisi unik masyarakat Banjar ini dibahas dalam siaran Ragam Budaya “Suluh Banua” PRO 4 RRI Banjarmasin, Minggu, 6 September 2026, bersama budayawan dan penggiat budaya Faisal Embron, serta M. Rafi dan Fina Liana.
Faisal Embron menjelaskan, tradisi ba’ayun telah ada jauh sebelum agama-agama masuk ke Kalimantan. Tradisi mengayun pada masyarakat terdahulu kemudian mengalami proses akulturasi dengan berbagai unsur keagamaan yang berkembang di Banua.
Menurutnya, setelah Islam berkembang di tanah Banjar, unsur-unsur keislaman seperti selawat dan dua kalimat syahadat kemudian masuk dalam syair yang dilantunkan ketika anak diayun. Hal tersebut membuat Ba’ayun Maulid memiliki keterkaitan erat antara tradisi masyarakat dan nilai spiritual Islam.
“Setelah Islam masuk ke tanah Banjar, syair yang berupa dua kalimat syahadat serta selawat itu dimasukkan ke dalam unsur bedundang atau mengayun anak ketika di dalam ayunan,” ujar Faisal.
Faisal mengatakan, salah satu keunikan Ba’ayun Maulid terlihat dari perlengkapan ayunan yang dihias dengan berbagai unsur tradisional. Di antaranya kain kuning, janur, halilipan, ketupat, serta piduduk. Berbagai bentuk dan perlengkapan tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan warisan budaya masyarakat Banjar masa lalu.
Tradisi tersebut hingga kini masih dilaksanakan di sejumlah daerah, salah satunya di Masjid Keramat Al-Mukarramah Desa Banua Halat, Kabupaten Tapin. Ba’ayun Maulid di daerah tersebut bahkan diikuti masyarakat dalam jumlah besar, mulai dari bayi hingga orang tua.
“Yang paling ganal itu di Banua Halat. Masyarakat Banua Halat itu sampai ribuan, dari anak bayi sampai yang paling tua,” kata Faisal.
Ia menambahkan, sebagian peserta mengikuti Ba’ayun Maulid sebagai bentuk bahajat atau nazar. Misalnya, seseorang berniat mengikutsertakan anaknya dalam Ba’ayun Maulid apabila mendapatkan rezeki atau keinginan tertentu.
Sementara itu, Fina Liana mengaku mulai tertarik mengikuti Ba’ayun Maulid setelah menyaksikan langsung pelaksanaannya dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, keterlibatan generasi muda penting agar mereka tidak hanya mengenal budaya Banjar dari cerita, tetapi memahami langsung makna dan proses pelaksanaannya.
“Sebagai anak muda, kalau kita tidak tahu, tidak ada habisnya. Kita harus mencari tahu, kita harus menggali apa yang tidak kita tahu,” ucap Fina.
Fina menilai Ba’ayun Maulid menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Tradisi tersebut tidak hanya memperlihatkan kekayaan budaya Banjar, tetapi juga mengandung nilai spiritual melalui selawat, doa, serta harapan orang tua terhadap anak.
M. Rafi, mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin, mengatakan generasi muda perlu memahami tradisi secara utuh sebelum memberikan penilaian. Menurutnya, keberagaman cara masyarakat dalam menjalankan tradisi perlu disikapi dengan saling menghargai.
Rafi juga berharap berbagai tradisi Banjar yang mulai jarang ditemui dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Harapan ulun, budaya-budaya bahari yang sudah hendak hilang itu bisa dipertahankan atau dikembangkan ke masa depan,” ujar Rafi.
Faisal menegaskan, pelestarian Ba’ayun Maulid tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Masyarakat dan pemerintah perlu bersama-sama memastikan tradisi tersebut tetap memiliki makna dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Ia mencontohkan pelaksanaan Ba’ayun Maulid di sejumlah tempat yang melibatkan masyarakat secara langsung. Peserta membawa sendiri perlengkapan yang diperlukan dan bergotong royong dalam mempersiapkan kegiatan.
Menurut Faisal, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Pemerintah dapat berperan dengan memberikan fasilitas dan dukungan agar pelaksanaan tradisi semakin layak, tanpa menghilangkan nilai dan pakem yang diwariskan.
Ba’ayun Maulid pada akhirnya tidak hanya menjadi tradisi mengayun anak, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan, menyampaikan doa, serta mengenalkan identitas budaya Banjar kepada generasi muda.
Melalui pemahaman dan keterlibatan generasi muda, Ba’ayun Maulid diharapkan tetap hidup di tengah perubahan zaman, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya Kalimantan Selatan yang terus dijaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....