Eco-Anxiety Muncul di tengah Kekhawatiran Kerusakan Hutan Kalimantan

  • 23 Agt 2026 14:57 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kerusakan hutan dan kebakaran lahan di Kalimantan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memicu kecemasan terhadap kondisi lingkungan atau eco-anxiety. Fenomena tersebut dibahas dalam siaran Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin bersama UIN Antasari Banjarmasin, Jumat, 21 Agustus 2026.

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, Rifqa Amalia Azzyati, S.Psi., MA, mengatakan rasa cemas, khawatir, dan takut akibat kondisi lingkungan yang memburuk merupakan respons yang wajar. Menurutnya, dalam psikologi kondisi tersebut dapat dipahami sebagai reaksi normal terhadap situasi yang tidak normal.

“Merasa cemas, merasa khawatir, kemudian merasa takut akibat keadaan alam yang tidak baik-baik saja itu adalah hal normal,” kata Rifqa.

Ia menjelaskan, eco-anxiety berkaitan dengan kecemasan yang muncul karena perubahan atau kerusakan ekosistem. Kondisi tersebut dapat dirasakan masyarakat yang secara langsung terdampak kebakaran hutan dan lahan, termasuk ketika asap mengganggu kesehatan, aktivitas, hingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keluarga.

Rifqa menilai kecemasan terhadap lingkungan tidak selalu bersifat negatif. Rasa khawatir justru dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Eco-anxiety itu sebenarnya menghadirkan motivasi, kita takut terhadap lingkungan kita. Karena kehidupan kita terganggu, maka sebaiknya kebakaran itu bisa dicegah,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Psikologi Islam, Ahmad Mujaddid Qaidul Haq, mengatakan generasi muda juga merasakan dampak psikologis dari kondisi kebakaran hutan dan lahan. Selain melihat pemberitaan di media sosial, mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di kawasan terdampak juga menghadapi langsung kondisi udara yang dipenuhi asap.

Ia mengungkapkan, kabut asap membuat jarak pandang berkurang dan perjalanan menuju kampus menjadi lebih lambat karena masyarakat harus lebih berhati-hati. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan rasa was-was, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Rifqa menambahkan, kecemasan yang berlebihan juga perlu diwaspadai karena berpotensi memperburuk kondisi psikologis. Eco-anxiety yang tidak dikelola dengan baik dapat berkaitan dengan munculnya atau memburuknya gejala kecemasan dan depresi.

Untuk menghadapinya, masyarakat dapat membangun kembali sense of control atau rasa memiliki kendali melalui tindakan sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari. Mengurangi pembakaran sampah, mengelola sampah dengan lebih baik, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, berkebun, hingga melakukan hobi dinilai dapat membantu mengurangi rasa tidak berdaya.

Menurut Rifqa diakhir siaran, langkah kecil tetap memiliki arti karena perubahan lingkungan juga dapat dimulai dari perilaku individu. Kesadaran masyarakat perlu berjalan bersama dukungan dan penanganan yang lebih luas terhadap persoalan ekologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....