Bapalas Bidan, Tradisi Kelahiran Warisan Budaya Banjar

  • 21 Apr 2026 12:13 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi bapalas bidan masih bertahan dalam masyarakat Banjar meskipun proses persalinan kini banyak dilakukan di fasilitas medis modern. Hal ini dibahas dalam program Ragam Budaya Ruhui Barakatan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 18 April 2026.

Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari, Iqnaul Umam Ashidiqi, M.H., menjelaskan bahwa tradisi ini masih dijalankan oleh masyarakat Suku Dayak dan Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Tradisi bapalas bidan merupakan bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi sekaligus ungkapan terima kasih kepada bidan yang membantu proses persalinan.

Mahasiswi Prodi Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah UIN Antasari, Siti Nabila Syahrida, CPLA, menambahkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Terlebih pada momen penting seperti persalinan, peran bidan sangat dibutuhkan sehingga layak diapresiasi.

“Waktu melahirkan tidak bisa diprediksi secara pasti, bisa tengah malam atau dini hari saat orang sedang beristirahat,” ujarnya. “Karena itu, masyarakat Banjar sangat berterima kasih atas jasa bidan yang telah membantu persalinan.”

Mahasiswi lainnya, Mariatul Kiftiah, menjelaskan bahwa bayi yang dilahirkan oleh bidan kerap disebut sebagai “anak bidan”. Oleh karena itu, tradisi bapalas bidan dilakukan sebagai simbol penyerahan bayi dari bidan kepada orang tuanya.

“Rentang waktu pelaksanaan bapalas bidan fleksibel, bisa dimulai dari hari ke-3 hingga ke-40,” ujarnya. “Selama tradisi ini belum dilaksanakan, bidan turut membantu merawat bayi, termasuk memandikannya.”

Ia menambahkan bahwa dalam prosesi tersebut, keluarga bayi menyerahkan sejumlah benda sebagai syarat adat kepada bidan. Benda-benda tersebut antara lain beras, gula merah, kue, kelapa, garam, serta benang dan jarum.

Iqnaul juga menjelaskan bahwa pada masa lalu, masyarakat Suku Dayak menggunakan unsur ritual tertentu, seperti darah hewan, dalam prosesi bapalas bidan. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya Islam di Kalimantan, praktik tersebut mulai disesuaikan dengan ajaran agama.

“Oleh karena itu, penggunaan darah tidak lagi dilakukan dalam tradisi bapalas bidan di masyarakat Banjar,” ujarnya. “Ritual tersebut diganti dengan pembacaan doa dan selawat agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh atau salehah.”

Para narasumber berharap tradisi bapalas bidan tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya. Selama mengandung nilai positif dan sejalan dengan syariat Islam, tradisi ini dinilai penting untuk terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....