Nasihat Lama Banjar Sarat Makna Psikologis dan Kearifan Lokal

  • 19 Apr 2026 19:55 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin pada Jumat, 17 April 2026, mengangkat tema “Bijak Ala Banjar: Nasihat Lama yang Sarat Makna Psikologis”. Siaran ini menghadirkan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Mahdia Fadhila, M.Psi., Psikolog, bersama mahasiswa Program Studi Psikologi Islam, Ahmad Mujaddid Qaidul Haq.

Mahdia menjelaskan adanya cabang ilmu psikologi yang mengkaji keterkaitan perilaku manusia dengan budaya, yakni Indigenous Psychology. Cabang ilmu ini menelaah bagaimana nilai-nilai budaya lokal memengaruhi tindakan individu sehingga membentuk karakter yang khas di setiap daerah.

Ia mencontohkan petuah lama masyarakat Banjar, yakni “haram manyarah waja sampai kaputing”. Menurutnya, ungkapan tersebut mencerminkan sikap pantang menyerah dalam menghadapi berbagai hambatan hingga tujuan tercapai.

“Petuah ini menyiratkan sikap pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kendala atau hambatan,” ujarnya. “Bagi masyarakat Banjar, pantang untuk berhenti sebelum tujuan akhir benar-benar tercapai.”

Mahdia menambahkan, nilai tersebut sejalan dengan konsep resiliensi dalam psikologi. Secara tidak langsung, masyarakat Banjar telah lama mempraktikkan ketahanan mental melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, petuah seperti “banyaki basabar” dan “amun jadi pengoler ngalih kena tuhanya” juga mengandung pesan moral tentang pembentukan kebiasaan. Petuah tersebut mengingatkan masyarakat agar menghindari sifat malas dan membiasakan diri bersabar dalam menjalani kehidupan.

Mujaddid turut membagikan petuah yang menjadi prinsip hidupnya, yakni “cangkali, tuguli, lawan syukuri”. Ia mengaku selalu mengingat nilai tersebut saat menghadapi situasi sulit, termasuk ketika mengikuti kompetisi.

“Setiap kali saya mengikuti lomba dan merasa gugup, saya selalu ingat petuah itu, cangkali, tuguli, lawan syukuri,” ujarnya. “Dalam menghadapi kesulitan, saya tetap bertahan dan teguh mencapai tujuan, serta mensyukuri apa pun hasilnya.”

Mahdia menekankan bahwa inspirasi untuk hidup bijak dapat ditemukan dalam budaya lokal. Dengan memahami kearifan Banjar, masyarakat dapat memperkuat kesehatan mental melalui nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kedua narasumber berharap petuah lama terus diwariskan kepada generasi muda secara kontekstual dan logis. Hal ini penting agar generasi masa kini dan mendatang mampu memahami makna serta tujuan di balik setiap nasihat yang diwariskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....