Pandir Kaya Timbangan Dadak, Istilah Bicara Berlebihan
- 12 Apr 2026 10:39 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Istilah “Pandir Kaya Timbangan Dadak” merupakan refleksi dari kebiasaan masyarakat yang kerap melebih-lebihkan informasi. Ungkapan sederhana dalam budaya Banjar sebagai pengingat pentingnya kejujuran dalam bertutur.
“Ini sindiran halus masyarakat Banjar, agar kita tidak berlebihan dalam berkata,” kata Noorhalis dalam siaran Ragam Budaya “Ruhui Barakatan," Jumat malam 10 April 2026).
Noorhalis menjelaskan, “pandir kaya timbangan dadak” merujuk pada kebiasaan berbicara yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan. Sebagian informasi memang benar, namun sisanya ditambah dan dilebihkan hingga mendominasi cerita.
“Yang bahaya itu ketika tambahan cerita justru lebih banyak dari fakta aslinya, sehingga orang jadi sulit membedakan mana yang benar,” katanya.
Perumpamaan ini diambil dari kebiasaan menimbang dedak, hasil samping penggilingan padi yang biasanya dilebihkan oleh penjual. Berbeda dengan beras yang harus ditakar tepat, dedak justru sering ditambahkan sesuka hati.
Dalam praktiknya, kebiasaan melebihkan pembicaraan dapat membuat informasi kehilangan kepercayaan. Fakta yang bercampur dengan imajinasi menjadikan pesan sulit dibedakan antara yang benar dan yang ditambahkan.
“Kalau orang sudah dikenal seperti itu, apa pun yang disampaikannya hanya didengar, belum tentu dipercaya,” ujarnya.
Noorhalis menegaskan bahwa penyampaian informasi harus akurat, terutama jika berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Informasi bukanlah ruang untuk berimajinasi, melainkan harus disampaikan apa adanya.
“Kalau menyangkut informasi penting, harus tepat, tidak boleh dilebihkan sedikit pun, karena bisa menyesatkan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....