Minimnya Minat Pelajar, Sastra Lisan Banjar Terancam Punah

  • 07 Apr 2026 15:33 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Minat pelajar terhadap sastra lisan Banjar dinilai semakin menurun di tengah arus digitalisasi. Hal tersebut mengemuka dalam program Pro4 RRI Banjarmasin Ragam Budaya Suluh Banua yang disiarkan Minggu, 5 April 2026.

Siaran ini menghadirkan narasumber Faisal Embron, Abdul Hamis, S.Ag., dan Ibrahim, S.H. Mereka menyoroti kondisi sastra lisan seperti madihin, lamut, dan syair yang kini mulai asing di telinga generasi muda.

Faisal Embron mengungkapkan bahwa keberadaan sastra lisan Banjar saat ini semakin jarang ditemui, bahkan di lingkungan pendidikan. Ia menilai minimnya tenaga pendidik yang menguasai bidang tersebut menjadi salah satu penyebab utama.

“Kalau gurunya saja kadang tidak tahu, apalagi muridnya,” ujarnya. “Ini yang membuat sastra lisan Banjar semakin asing di kalangan pelajar.”

Ia menambahkan, jenis sastra seperti lamut dan syair kini hampir tidak terdengar lagi dibandingkan madihin yang masih relatif dikenal. Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan eksistensi kesenian tradisional di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ibrahim menjelaskan bahwa sastra lisan Banjar memiliki kekayaan bentuk dan fungsi, baik sebagai hiburan maupun media penyampaian sejarah dan nilai kehidupan. Ia menyebut syair Banjar kerap mengangkat kisah nyata dan sejarah lokal.

“Syair itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga merekam sejarah,” kata Ibrahim.

Namun, ia menyayangkan minimnya dokumentasi dan pembukuan yang membuat warisan budaya tersebut sulit dipelajari generasi muda. Hal ini dinilai menjadi tantangan dalam upaya pelestarian.

Di sisi lain, Abdul Hamis menyoroti pentingnya penguasaan teknik dan langgam dalam membawakan sastra lisan. Menurutnya, kemampuan tersebut kini semakin langka karena tidak banyak diajarkan secara khusus di lembaga pendidikan.

“Untuk bisa bersyair dengan baik, ada ilmu dan rumusnya, seperti arut dalam tradisi keilmuan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian tidak cukup hanya dengan mengenalkan, tetapi juga memerlukan pembelajaran yang sistematis. Upaya tersebut penting agar generasi muda dapat memahami sekaligus menguasai sastra lisan Banjar.

Para narasumber sepakat bahwa pelestarian sastra lisan Banjar membutuhkan peran aktif berbagai pihak, termasuk pemerintah, pendidik, dan masyarakat. Pemanfaatan media digital seperti YouTube dan TikTok dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengenalkan kembali budaya tersebut kepada generasi muda.

Mereka menekankan bahwa keberlangsungan sastra lisan Banjar sangat bergantung pada kesadaran bersama untuk melestarikannya. Tanpa upaya konkret, warisan budaya tersebut dikhawatirkan akan semakin tergerus dan perlahan menghilang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....