Prinsip Baiman Bauntung Batuah Jadi Pegangan Urang Banjar

  • 04 Apr 2026 10:34 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Istilah baiman, bauntung, batuah telah lama hidup dan diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Banjar. Terutama melalui pola pengasuhan anak sejak dini.

“Istilah ini bukan sekadar ucapan, tetapi doa dan harapan orang tua agar anak memiliki keimanan yang kuat, hidup yang baik, serta menjadi pribadi yang mulia. Biasanya disampaikan melalui senandung atau nasihat sejak anak masih kecil,” ujar Dr. Fatrawati Kumari, M.Hum, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, dalam Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin, Sabtu 3 April 2026.

Dosen yang akrab disapa Bu Fatra itu mengatakan, baiman menjadi fondasi utama yang menuntun seseorang dalam menjalani kehidupan. Dari keimanan yang kuat, seseorang diharapkan memperoleh bauntung atau keberuntungan.

"Keberuntungan, baik di dunia maupun akhirat, yang kemudian bermuara pada batuah, yakni kemuliaan dan ketangguhan pribadi," ujarnya..

Bauntung itu bukan hanya soal materi, tetapi keberhasilan hidup yang dilandasi iman. Sedangkan batuah adalah kondisi ketika seseorang menjadi pribadi tangguh dan dihormati karena kualitas dirinya..

Sementara itu, Muhammad Aldiro Rayhandi atau Ray, mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, menekankan bahwa prinsip tersebut masih sangat relevan saat ini. Relevan sebagai pedoman hidup masyarakat modern, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

“Iman menjadi kunci utama. Ketika seseorang beriman dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ketenangan hidup akan tercapai. Dari situ muncul keberuntungan dan pada akhirnya kemuliaan,” ujarnya.

Salah satu pendengar Abah Sofyan dari Pelaihari, menanyakan terkait tradisi orang tua zaman dahulu dalam memberikan panggilan penuh doa kepada anak, seperti “haji” atau “anak saleh”. Menanggapi hal tersebut, Bu Fatra menilai bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari bentuk doa yang terus hidup dalam budaya Banjar.

“Orang tua Banjar punya banyak cara mendoakan anak, termasuk melalui panggilan yang baik. Bahkan dalam kondisi marah pun, mereka tetap memilih kata-kata positif karena diyakini doa orang tua itu sangat kuat,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....