Budaya Salim Cerminan Adab dan Hormat Urang Banua

  • 30 Jan 2026 21:55 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - “Budaya Salim”, adalah sebuah tradisi sopan santun khas masyarakat Banjar yang dinilai mulai tergerus zaman. Noor Haida Sopyan, seorang dosen, dan womenprenuer,memaparkan pentingnya menjaga adab salim sebagai fondasi pembentukan karakter sejak usia dini.

“Salim bukan sekadar cium tangan, tapi simbol penghormatan, adab, dan akhlak kepada orang yang lebih tua. Ini nilai yang seharusnya ditanamkan dari rumah,” ujar Certified Public Speaking Expert ini, dalam Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin, Senin, 26 Januari 2026.

Haida menyoroti fenomena anak-anak dan remaja yang mulai mengganti salim dengan gestur lain seperti tos atau sekadar anggukan. Ini akibat pengaruh modernisasi dan kebiasaan selama masa pandemi.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada anak. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi orang tua dan lingkungan sekitar.

“Modernisasi tidak bisa dihindari, tapi nilai-nilai lokal jangan sampai hilang. Peran orang tua sangat besar dalam membiasakan adab, termasuk salim, sejak anak masih kecil,” kata Haida.

Haida juga membahas cara anak zaman sekarang yang menganggap salim bukan lagi hal yang esensial. Cara salim anak zaman sekarang itu terkesan cuma menempelkan tangan kedahi atau pipi.

"Padahalkan salim atau cium tangan yang sebenarnya itu antara hidung dan atas bibir, kemudian sedikit menghirup tanda kita mengambil berkah atau afwah dari orang tersebut," ujar Haida, merespon dengan ekspresif.

Haida juga mengamalkan itu dari lingkungan terkecil di keluarganya. Membiasakan kedua anaknya agar menjada adab kepada orang yang lebih tua.

Fokus pada pembentukan karakter anak dengan menjunjung tinggi etika bersikap sejak dini. Pesan penting lainnya adalah menerapkan sikap tersebut dari keluarga dulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....