Membaca Bahasa Sungai, Suluh Banua Ingatkan Tanda Alam

  • 01 Des 2025 13:19 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Program siaran budaya “Suluh Banua” kembali hadir pada 30 November 2025 dengan mengangkat tema Sungai sebagai Indikator Alam. Acara ini juga juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Pro4 RRI Banjarmasin dan menarik perhatian publik karena relevansinya dengan kehidupan masyarakat Banjar.

Dua narasumber Faisal Embron dan Ibrahim mengulas bagaimana sungai menjadi pusat kehidupan masyarakat Banjar sejak dahulu. Sungai bukan sekadar jalur transportasi tradisional, melainkan juga alat baca alam yang dipahami leluhur.

“Sungai dan seluruh isinya adalah isyarat alam. Lewat warna air, perilaku biota, sampai perubahan arus, semuanya memberi tanda bagi manusia,” ujar Faisal.

Fenomena banjir yang beberapa waktu terakhir marak terjadi, baik di Kalimantan Selatan maupun wilayah Sumatera. "Bahwa apa yang terlihat di media sosial adalah bukti bahwa indikator alam sebenarnya sudah memberi peringatan sejak lama," ucapnya.

Ia memberi contoh isyarat tradisional tentang galambuai atau gondang (keong sungai) yang meletakkan telur di tunggul tinggi, menandakan air akan meluap. “Kalau telur gondang sudah tinggi, pasti air sungai sebentar lagi naik. Itu ilmu orang Bahari yang tidak bisa dianggap remeh,” ucapnya menjelaskan.

Faisal menambahkan, kemampuan membaca alam tersebut kini semakin hilang seiring perubahan pekerjaan dan gaya hidup masyarakat. "Generasi muda jarang berhubungan langsung dengan alam, sehingga kehilangan kepekaan terhadap tanda-tanda yang dulu menjadi petunjuk penting bagi petani dan nelayan," ucapnya.

Ibrahim menambahkan bahwa teknologi modern memang membantu, tetapi sekaligus menjauhkan manusia dari kearifan lokal. “Masalahnya sekarang bukan sekadar lupa, tetapi tidak peduli. Orang lebih percaya aplikasi cuaca daripada tanda sungai, padahal leluhur punya teknologi alam yang tidak kalah akurat,” ucapnya.

Pembahasan semakin menarik ketika keduanya menyoroti masalah lingkungan di Banjarmasin, terutama banjir besar yang terjadi saat pandemi Covid, yang membuat kota “Seribu Sungai” tersebut terendam hingga satu bulan. Hal ini menjadi pengingat bahwa kerusakan sungai bukan sekadar isu pinggiran, tetapi sudah sampai pada tahap mengancam kehidupan warga.

Ibrahim menegaskan bahwa faktor utamanya adalah perilaku manusia dan kepentingan ekonomi. “Ujung-ujungnya duit. Penebangan hutan, tambang, bahkan bangunan di atas sungai diizinkan karena ada kepentingan. Itulah akar masalahnya,” katanya.

Selain faktor eksploitatif, alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan turut memperparah kondisi sungai. Banyak wilayah yang seharusnya dilindungi dijadikan area hunian tanpa mempertimbangkan amdal serta tata ruang. Dampaknya, air kehilangan jalur alirannya dan akhirnya meluap ke permukiman warga.

Ibrahim menilai lemahnya pengawasan menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. “Sudah ada aturan zonasi, tapi sering kali dilanggar. Sungai yang harusnya jadi urat nadi malah ditutup, diganti jalan atau perumahan. Lama-lama penyakitnya akut,” tegasnya.

Pada bagian akhir siaran, para narasumber menjelaskan beragam jenis pembagian sungai di Kalimantan Selatan, seperti Handil, Anjir, Antasan, hingga Saka yang merupakan bagian terkecil. Pengetahuan ini penting untuk memahami struktur dan fungsi sungai dalam kehidupan masyarakat Banjar.

Faisal menilai bahwa pemulihan sungai masih mungkin dilakukan jika pemerintah dan masyarakat bekerja bersama menjaga vegetasi asli seperti rambai, galam, dan bungur. “Sungai bisa diselamatkan. Jangan hanya betonisasi. Kembalikan vegetasi alamnya, karena di situlah kekuatan sungai bertahan,” ucapnya diakhir acara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....