Jejak Sejarah Tarakan dan Uniknya Rumah Lanting Banjar

  • 01 Nov 2025 10:24 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Saat Perang Dunia II, Tarakan menjadi salah satu titik strategis yang dikuasai tentara Jepang. Tarakan kala itu dikenal sebagai penghasil minyak terbesar bagi Hindia Belanda.

"Itulah sebabnya Jepang tertarik untuk menguasainya, selain karena posisinya yang strategis di jalur Laut Sulawesi,” ujar Azis Baderuddin, S.S., Pamong Budaya Ahli Muda dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Tarakan, dalam siaran berjaringan Pesona Budaya Borneo, Rabu (29/11/2025).

Siaran berjaringan Koordinator Wilayah 8 Banjarmasin itu menghadirkan dua topik budaya dan sejarah menarik dari dua daerah berbeda di Kalimantan. RRI Tarakan mengangkat tema “Jejak Tentara Dai Nipon di Tarakan”, sementara RRI Banjarmasin membahas “Rumah Lanting, Budaya Sungai Masyarakat Banjar yang Mulai Punah”.

Siaran bersama ini dipandu oleh Jubaedah dari RRI Pro 1 Tarakan dan Elly dari RRI Pro 4 Banjarmasin. Selain itu juga diikuti RRI Palangkaraya, RRI Samarinda, dan RRI Nunukan.

Azis mengisahkan, pendudukan Jepang di Tarakan berlangsung sekitar tiga setengah tahun dan membawa penderitaan bagi masyarakat setempat. Mereka dipaksa bekerja keras tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan.

“Kami menemukan banyak cerita dari saksi sejarah yang menggambarkan betapa beratnya kehidupan di masa itu. Namun dari situ pula muncul kesadaran sejarah untuk mencintai tanah air dan menjaga warisan perjuangan,” ujarnya.

Azis juga menyinggung tentang pelestarian situs peninggalan Jepang di Tarakan. Situs tersebut, yakni Tugu Perabuan Jepang dan bekas markas tentara di daerah Gunung Selatan.

Menurutnya, beberapa peninggalan fisik telah diamankan dan dirawat di museum setempat. Pihaknya rutin melakukan konservasi dan mendatangkan ahli dari Museum Nasional.

"Hal ini agar benda-benda sejarah ini tetap lestari dan bisa menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang,” ucapnya.

Sementara itu, Iberahim, S.H.,dari Banjarmasin menghadirkan topik “Rumah Lanting Budaya Sungai Masyarakat Banjar yang Mulai Punah”. Pemerhati sejarah dan budaya Banjar ini menjelaskan bahwa rumah lanting merupakan arsitektur khas Banjar yang sejak dulu.

"Rumah lanting menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sungai, bbukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol kehidupan masyarakat Banjar yang sangat dekat dengan sungai. Dahulu, jumlahnya mencapai ratusan, kini tinggal segelintir saja,” katanya.

Lebih jauh, Iberahim juga mengisahkan sejarah panjang rumah lanting yang pernah menjadi benteng pertahanan di masa Kerajaan Daha. Namun, sejak masa kolonial Belanda sekitar tahun 1927, keberadaannya mulai terancam.

“Saat itu pemerintah kolonial berencana menggusur rumah lanting karena dianggap mengganggu jalur sungai. Untungnya, rencana itu batal karena anggaran dialihkan untuk pembangunan hotel Banjar. Sejak itu rumah lanting masih bisa bertahan hingga awal kemerdekaan,” katanya, mengisahkan.

Di akhir siaran, Iberahim menyampaikan pentingnya upaya pelestarian rumah lanting sebagai identitas budaya Banjar yang hampir punah. Perlu menumbuhkan kesadaran bersama bahwa rumah lanting bukan sekadar bangunan, tapi bagian dari sejarah peradaban sungai masyarakat Banjar.

"Kalau tidak dilestarikan, kita akan kehilangan jati diri budaya sungai yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan,” ucapnya, mengingatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....