Madam dan Mudik Urang Banjar dalam Perspektif Al-Quran

  • 28 Mar 2026 10:39 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Madam atau dalam bahasa Banjar merantau tidak sekadar perpindahan fisik meninggalkan kampung halaman. Madam juga memiliki beragam motif, mulai dari mencari ilmu, ekonomi, hingga alasan sosial.

“Madam itu bukan sekadar pergi, tetapi bagian dari ikhtiar hidup untuk memperbaiki keadaan,” kata Dr. Norhidayat, M.A., dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, dalam Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin, Jumat, 27 Maret 2026.

Dikatakan, dalam perspektif Al-Qur’an, aktivitas merantau dapat bernilai positif selama dilandasi niat yang baik. Namun demikian, terdapat pula sisi negatif apabila madam dilakukan untuk menghindari tanggung jawab atau akibat perbuatan yang tidak baik.

Didampingi Aulia Najira Putri, mahasiswi Prodi Psikologi Islam, Pandiran Baisukan mengangkat tema “Budaya Madam dan Mudik Urang Banjar dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an”. Tradisi madam menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas urang Banjar yang telah berlangsung sejak lama.

Sementara tradisi mudik menjadi momen penting bagi masyarakat Banjar, khususnya menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mudik dipahami sebagai upaya menyambung kembali silaturahmi dengan keluarga serta mengenang kampung halaman.

“Tujuan utama mudik adalah silaturahmi, baik dengan keluarga yang masih hidup maupun yang telah meninggal melalui doa. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kekeluargaan dalam budaya Banjar tetap terjaga lintas ruang dan waktu," ujarnya.

Dalam sesi dialog, Aulia Najira Putri memberi pandangan dari sisi psikologi Islam terkait fenomena generasi muda yang mulai cenderung mengandalkan interaksi digital. Ia menilai bahwa silaturahmi secara langsung tetap memiliki nilai emosional yang lebih kuat dibandingkan komunikasi daring.

“Pertemuan langsung itu penting untuk membangun kedekatan emosional dan keterampilan sosial, terutama bagi generasi muda. Untuk itu pentingnya peran keluarga mendorong anak-anak untuk tetap menjalin hubungan sosial secara nyata," ucapnya.

Menutup siaran, Norhidayat mengingatkan bahwa baik madam maupun mudik harus dimaknai sebagai bagian dari perjalanan hidup yang selaras dengan nilai-nilai agama. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga niat, memperkuat silaturahmi, serta mengambil hikmah dari setiap perjalanan, baik saat pergi maupun kembali ke kampung halaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....