RRI.CO.ID, Bandung - Mengapa Kita yang "Awas" Seringkali Lebih Buta? Dunia yang kita tinggali saat ini adalah dunia yang sangat bising oleh visual. Kita memuja apa yang berkilau, menghakimi apa yang tampak, dan sering kali merasa lumpuh hanya karena kehilangan arah tujuan yang bisa dilihat oleh mata.
Kita, manusia yang merasa memiliki penglihatan sempurna, ironisnya justru sering menjadi makhluk yang paling penakut saat bayang-bayang kegagalan mulai menghalangi pandangan.
Namun, di sudut sebuah gedung olahraga, di atas matras (tatami) yang sunyi, sebuah pelajaran tentang kehidupan sedang direnda ulang dengan cara yang sangat kontras. Di sana, para atlet judo disabilitas netra berdansa dalam kegelapan, membuktikan bahwa keberanian sejati justru lahir saat mata terpejam dan jiwa mulai mengambil alih kendali.
Ukemi: Sajak Tentang Jatuh yang Terhormat
Pelajaran pertama dalam judo bukanlah tentang bagaimana merobohkan lawan, melainkan ukemi seni jatuh dengan aman.
Bagi kita yang hidup dalam terang, jatuh adalah aib. Jatuh adalah simbol kekalahan yang kita hindari dengan segala cara. Namun bagi seorang atlet disabilitas netra, melepaskan tubuh ke arah lantai yang tidak terlihat adalah sebuah tindakan iman yang luar biasa.
Dalam perspektif pekerjaan sosial, ini adalah bentuk nyata dari keberfungsian sosial. Mereka tidak membiarkan hambatan fisik memutus relasi mereka dengan dunia. Bagi mereka, jatuh bukanlah kehancuran; jatuh adalah cara bumi menyapa manusia, mengingatkan bahwa kekuatan untuk bangkit adalah anugerah terbesar yang kita miliki.
Pesannya untuk kita sederhana: jika mereka berani menjatuhkan diri ke dalam gelap tanpa ragu karena percaya pada kemampuan untuk berdiri kembali, mengapa kita yang diterangi cahaya begitu ketakutan akan kegagalan?
Sering kali, kita gagal bukan karena kekurangan tenaga, tetapi karena kehilangan nyali untuk mencoba hanya karena takut terlihat tidak sempurna saat terjatuh.
Kumi-kata: Melukis Niat di Atas Kain
Pertandingan judo disabilitas netra memiliki keunikan yang sangat puitis: kumi-kata. Kedua atlet harus saling mencengkeram kerah baju lawan sebelum pertandingan dimulai. Di detik itu, dunia visual menghilang, digantikan oleh dunia getaran dan rasa.
Saat jari-jemari mereka mencengkeram kain, mereka tidak lagi melihat status sosial. Mereka mulai “membaca” niat, tegangan otot, hingga deru napas lawan lewat saraf-saraf jemari.
Inilah makna dari strengths perspective (perspektif kekuatan). Mereka tidak fokus pada apa yang hilang—penglihatan—melainkan memaksimalkan apa yang mereka miliki: kepekaan taktil dan pendengaran untuk menguasai keadaan.
Kita yang memiliki mata sering kali terlalu sibuk melihat “topeng” hingga gagal merasakan “jiwa”. Para pejuang ini mengajarkan bahwa kejujuran sejati tidak membutuhkan cahaya; ia hanya membutuhkan ketulusan untuk saling menyentuh dan memahami substansi di balik penampilan.
Siapa yang Sebenarnya "Buta"?
Melihat bantingan sempurna—sebuah ippon—yang dilakukan dalam kegelapan total adalah momen emansipasi dan keberdayaan (empowerment).
Di detik itu, kegelapan meledak menjadi cahaya batin yang benderang. Mereka membuktikan bahwa kemandirian tidak datang dari kesempurnaan fisik, melainkan dari keteguhan hati untuk terus maju meski dalam sunyi.
Lalu, kita patut bertanya pada cermin di rumah: siapa yang sebenarnya malang? Mereka yang menantang badai dalam gelap, atau kita yang memiliki mata namun menutup pintu mimpi karena takut pada bayang-bayang ketidakpastian?
Sering kali, kita yang “awas” justru lebih buta. Kita buta terhadap nikmat kesehatan, buta terhadap peluang yang ada di depan hidung, dan buta terhadap masa depan karena terlalu fokus pada hambatan kecil yang menghalangi pandangan.
Menjemput Cahaya di Balik Keterbatasan
Tulisan ini bukan sekadar tentang olahraga beladiri. Ini adalah tentang resiliensi—kemampuan jiwa untuk membalik keadaan dari tekanan.
Jika para judoka tunanetra mampu menaklukkan dunia dalam gelap, lantas alasan apa lagi yang akan kita gunakan untuk menunda impian hari ini?
Berhentilah mengeluhkan apa yang tidak ada di hadapan mata. Mulailah menggenggam erat apa yang ada di dalam hati. Hidup mungkin akan sering membanting kita, namun seperti seorang judoka, gunakan energi bantingan itu untuk melenting kembali.
Pada akhirnya, kemenangan bukan milik mereka yang sekadar melihat jalan, melainkan milik mereka yang berani melangkah meski jalan itu tak terlihat. Jangan takut pada kegelapan hidupmu; di sanalah tempat terbaik bagi jiwa untuk belajar melihat cahaya yang sesungguhnya. Yakinlah, gelap tak selamanya merayap. Kelam bukan berarti diam.
Ditulis oleh: Suhendar (aktivis disabilitas dan pegiat sosial)