Mendikdasmen dan Basarnas Tandatangani Nota Kesepahaman Keselamatan
- 28 Feb 2026 11:06 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Abdul Mu'ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Penandatanganan tersebut turut dihadiri Kepala Basarnas, Mohammad Syafii; Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti; serta jajaran pejabat dari kedua instansi.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun kesadaran keselamatan diri dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Menteri Mu’ti menyampaikan bahwa momentum tersebut sejalan dengan komitmen kementerian untuk memberikan edukasi keselamatan diri kepada murid dan guru di berbagai satuan pendidikan.
Menurutnya, pemahaman dasar mengenai keselamatan dan pertolongan pertama perlu diperkenalkan sejak dini. “Kita bisa bekerja sama menjadikan Search and Rescue (SAR) sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” ujar Mu’ti, Sabtu 28 Februari 2026.
Sementara itu, Mohammad Syafii menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar sekaligus risiko bencana yang tinggi. Ia menyebut Indonesia berada pada peringkat kedua dunia dalam potensi kebencanaan, termasuk ancaman megathrust yang diperkirakan dapat terjadi dalam kurun waktu 100 tahun ke depan.
Berdasarkan amanah undang-undang, masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana namun tidak terdampak langsung memiliki kewajiban melakukan tindakan awal sembari menunggu petugas. Karena itu, Basarnas mendorong penguatan edukasi keselamatan hingga ke level Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui alat permainan edukatif (APE).
“Ke depan, pelatihan di level PAUD bisa kita sinergikan melalui mainan edukatif dengan pemahaman dasar bahwa keselamatan adalah hal mendasar,” kata Syafii.
Menanggapi hal tersebut, Mu’ti menyatakan bahwa visi Basarnas sejalan dengan program Kemendikdasmen yang mendorong pengembangan bakat dan minat siswa di berbagai bidang, termasuk kemampuan SAR. Ia menilai kompetensi penyelamatan diri dapat diselaraskan dengan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk program kepramukaan yang kini menjadi kegiatan wajib di sekolah.
“Kemampuan ini penting agar anak-anak memahami dasar menyelamatkan diri saat terjadi banjir, kebakaran, maupun musibah lainnya,” ujarnya.
Mu’ti berharap kerja sama ini menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi dalam membangun generasi yang tangguh bencana sekaligus membuka peluang lahirnya relawan-relawan Basarnas dari kalangan pelajar di masa depan.