Kisah Hernawati, Penyapu Jalanan dan Harapannya di Hari Ibu
- 22 Des 2025 17:52 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung; Di balik ramainya lalu lintas Kota Bandung pada pagi hari, ada sosok-sosok pekerja yang memulai aktivitas jauh sebelum matahari terbit. Salah satunya adalah Hernawati (46), seorang ibu sekaligus penyapu jalanan yang mengabdikan hidupnya demi keberlangsungan ekonomi keluarga.
Hernawati merupakan warga Jatihandap, Kelurahan Mandalajati, Kota Bandung. Sudah lima tahun terakhir ia bekerja sebagai penyapu jalan di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung dengan status pekerja harian lepas. Meski statusnya tidak tetap, dedikasi dan tanggung jawabnya tak pernah setengah-setengah.
“Sudah lima tahun saya bekerja sebagai penyapu jalan. Status saya pekerja harian lepas,” ujar Hernawati dengan nada tenang, saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Senin (22/12/2025).
Keputusan Hernawati untuk bekerja bukan tanpa alasan. Meski sang suami juga bekerja, ia merasa penghasilan keluarga belum mencukupi jika hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Hernawati rela menjalani dua peran sekaligus: sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah.
“Kalau saya tidak bekerja, rasanya ekonomi belum terpenuhi. Makanya saya ikut bekerja, salah satunya sebagai penyapu jalan,” tuturnya.
Baca juga : Momentum Hari Ibu, Perempuan Pilar Ketahanan Bangsa
Sebagai penyapu jalan, Hernawati bekerja keras adalah bentuk tanggung jawab dan pengorbanan seorang ibu demi keluarganya.
Setiap hari, Hernawati memulai pekerjaannya sejak pukul 04.00 WIB hingga 12.00 WIB. Ia harus berangkat dari rumah sekitar pukul 03.30 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap dalam tidur.
“Kadang ada rasa takut juga, karena kondisi jalan masih sepi. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan harus dijalani,” ungkapnya.
Area kerjanya berada di kawasan Bandung Electronic Center (BEC), salah satu pusat aktivitas masyarakat yang cukup padat. Di sana, Hernawati bertugas membersihkan berbagai jenis sampah, mulai dari daun-daun pohon yang berguguran hingga sampah plastik sisa aktivitas warga.
“Selama jam kerja, saya harus standby supaya kawasan tetap bersih,” jelasnya.
Pekerjaan di jalan raya tentu tidak lepas dari risiko. Hernawati harus ekstra hati-hati menghadapi lalu lalang kendaraan bermotor yang padat, terutama di jam-jam sibuk.
“Kalau kerja di jalan ya harus hati-hati. Banyak motor, mobil. Kita harus waspada,” katanya.
Namun di balik kerasnya pekerjaan tersebut, Hernawati juga merasakan sisi hangat dari kepedulian masyarakat. Tak jarang, ia menerima rezeki tak terduga dari orang-orang yang melintas.
“Sukanya, kadang ada yang kasih makanan, sembako, atau uang. Itu rasanya senang dan terharu,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski begitu, ada pula hari-hari berat yang harus ia hadapi. Saat musim gugur daun tiba, beban pekerjaannya meningkat karena volume sampah bertambah dan mengharuskannya bekerja lebih ekstra.
Di momen Hari Ibu, kisah Hernawati menjadi potret nyata tentang arti pengorbanan dan keteguhan seorang perempuan. Tanpa sorotan, tanpa panggung, ia menjalani perannya dengan penuh keikhlasan.
“Harapan saya sederhana saja. Saya ingin sehat, bahagia, dan cukup secara ekonomi,” tandasnya.
Kisah Hernawati adalah pengingat bahwa di balik bersihnya kota, ada tangan-tangan ibu yang bekerja dalam diam, menyapu jalan sekaligus menyapu harapan bagi masa depan keluarganya.