Pamali, Hanya Mitos atau Strategi Menjaga Keseimbangan Alam?
- 11 Feb 2026 12:43 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Masyarakat Sunda terdahulu sangat tertib menjaga perilaku, memperlakukan alam, hidup berdampingan dengan manusia lain dan alam karena mengenal adanya “Pamali”. Hal itu membuat keberlangsungan hidup pada jaman dahulu sangat tertata dengan baik.
Pamali adalah sebuah strategi yang dibuat oleh karuhun Sunda dahulu untuk menjaga keamanan hidup pada jamannya, saat ini dan masa yang akan datang. Namun sangat disayangkan, saat ini masih banyak yang tidak paham atau bahkan tidak tahu apa itu Pamali.
Abah Uci, seorang Budayawan Sunda dan Founder Bumi Dega, berpendapat bahwa bisa dilihat dari bagaimana masyarakat saat ini yang sudah tidak tahu lagi dengan adanya Leuweung Larangan. “Leuweung Larangan itu artinya artinya suci atau yang disucikan, sampai seolah-olah semua boleh dipakai untuk kehidupan,” tegas Bah Uci.
Baca juga : Destinasi Jawa Barat Yang Masih Menyimpan Hal Baru
Hal ini besar kemungkinan dikarenakan karena banyak masyarakat yang sudah tidak memahami pesan-pesan dari para leluhur. “Semua ini sesungguhnya adalah sebuah strategi dari leluhur untuk kehidupan, sehingga strategi ini pada akhirnya akan menghasilkan masyarakat yang rukun, damai, dan gemah ripah lohjinawi,” lanjut bah Uci.
Betapa strategi leluhur masyarakat Sunda melalui “Pamali” harus dipahami dan terus dilakukan karena dilihat dapat menjaga kesejahteraan kehidupan. “Maka tidak heran kalau pemahaman tentang Pamali sudah dibiarkan dan tidak ada lagi yang membangkitkan, kita akan semakin rusak dan hancur,” lanjut bah Uci.
Pamali yang pada jaman dahulu dilakukan untuk menjaga alam adalah adanya rasa takut ketika masyarakat dahulu melanggar Pamali. “Contohnya, Masyarakat dahulu tidak ada yang berani masuk ke area Leuweung Larangan karena takut dengan akibat jika melanggar pamali tersebut hanya dengan kalimat mun suluh geus meunang satanggungan, tong ngalieuk deui katukang bisi aya nu nuturkeun,” lanjut Bah Uci.
Arti dari kalimat tersebut adalah, jika mengambil kayu bakar (di area Leuweung Larangan) sudah penuh satu tanggungan, jangan melihat lagi ke belakang karena akan ada yang mengikuti. Padahal maksud dari contoh pamali tersebut adalah karena manusia memiliki jiwa keserakahan, jika sudah mengambil satu tanggungan, ketika melihat lagi kebelakang dengan pepohonan yang masih banyak, akan tergiur untuk mengambil lagi lebih dari satu tanggungan, akhirnya hutan akan cepat gundul dan bencana akan terjadi.