Aktif Sosmed, Tapi Tak Pernah Posting? Ini Penjelasannya
- 31 Jan 2026 20:13 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Pernah menemukan akun Instagram atau TikTok yang aktif mengikuti banyak orang, rajin melihat story, tahu tren terbaru, tapi hampir tidak pernah mengunggah apa pun? Fenomena “akun sunyi” ini ternyata bukan hal aneh dan justru banyak dialami pengguna media sosial.
Di tengah budaya pamer pencapaian dan kehidupan estetik, memilih untuk tidak memposting sering dianggap tanda minder atau kurang percaya diri. Namun, psikologi digital melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Dalam budaya internet dikenal aturan 1 persen (one percent rule), yang menyebut hanya sekitar satu persen pengguna aktif membuat konten. Sementara sebagian besar lainnya memilih menjadi pengamat atau lurkers. Artinya, pengguna yang jarang posting justru merupakan mayoritas.
Dilansir dari kanal youtube @lipia, psikolog menyebut salah satu alasannya adalah lelah untuk mengelola citra diri sendiri (impression management fatigue). Setiap unggahan memikirkan pertimbangan tertentu seperti, takut dinilai pamer, takut salah caption, hingga cemas dengan komentar orang lain. Bagi sebagian orang, proses ini terasa melelahkan secara mental.
Baca juga : Deretan Lagu Ikonik yang Selalu Menggema Tribun Sepakbola
Selain itu, ada pula efek psikologis bernama spotlight effect, yaitu perasaan seolah semua orang memperhatikan dan menilai kita. Kekhawatiran akan penilaian negatif membuat banyak pengguna memilih aman dengan tetap diam.
Menariknya, studi psikologi juga menunjukkan bahwa orang yang jarang memposting cenderung lebih menikmati pengalaman secara langsung. Mereka tidak sibuk mendokumentasikan momen demi konten, melainkan menyimpannya sebagai pengalaman personal yang utuh.
Dalam konteks ini, diam di media sosial bukan berarti tidak punya kehidupan. Justru, banyak orang memilih menjaga privasi dan kebahagiaan tanpa perlu validasi berupa like atau komentar.
Fenomena ini menegaskan bahwa eksistensi di era digital tidak selalu harus ditunjukkan lewat unggahan. Tidak terlihat di layar bukan berarti tidak hidup, tidak berkembang, atau tidak bahagia. Bagi sebagian orang, keheningan digital adalah pilihan sadar untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk media sosial.