SIDIA dan Perannya dalam Mendukung Pembelajaran Digital di Sekolah
- 10 Mar 2026 19:11 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - SIDIA (Sistem Edukasi Arfadia) merupakan salah satu perangkat lunak pembelajaran digital yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan belajar di sekolah. Software ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif yang dapat digunakan oleh guru dan siswa dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Dikembangkan oleh PT Arfadia Digital Indonesia, SIDIA menghadirkan berbagai konten pembelajaran berbasis multimedia yang mencakup mata pelajaran inti seperti Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, PKN, hingga Teknologi Informasi. Materi yang tersedia tidak hanya berbentuk teks, tetapi juga dilengkapi video pembelajaran, e-book, serta kuis interaktif yang dapat digunakan sebagai sarana evaluasi belajar.
Selain menyediakan konten edukasi, sistem ini juga memiliki fitur SIDIA Cloud, yaitu platform yang menghubungkan berbagai pihak dalam ekosistem pendidikan. Melalui sistem tersebut, komunikasi dapat dilakukan antara kepala daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, siswa, hingga orang tua siswa dalam satu jaringan informasi yang terintegrasi.
Platform ini tercatat sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan nomor registrasi 00180/DJAI.PSE/01/2017, sehingga keberadaannya dapat diverifikasi melalui portal resmi pemerintah.
Kehadiran software pembelajaran seperti SIDIA tidak terlepas dari meningkatnya perhatian terhadap digitalisasi pendidikan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong penggunaan teknologi informasi di sekolah melalui berbagai program, salah satunya melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan.
Melalui kebijakan yang diatur dalam Permendikbud Nomor 7 Tahun 2018, sekolah yang menerima bantuan DAK untuk teknologi informasi dan komunikasi diwajibkan menyediakan perangkat lunak pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum nasional.
Aturan tersebut berlaku bagi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Dalam implementasinya, perangkat lunak yang diadakan biasanya berbentuk paket lengkap yang dipasang di laboratorium komputer sekolah.
Paket tersebut umumnya berisi berbagai materi digital, mulai dari modul pembelajaran, konten multimedia interaktif, video edukasi, hingga latihan soal yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Kondisi ini membuka peluang bagi pengembang teknologi lokal untuk menghadirkan software pendidikan yang dapat digunakan langsung oleh sekolah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi pendidikan di Indonesia juga dipengaruhi oleh pertumbuhan industri edtech yang cukup pesat. Berdasarkan data IMARC Group, pasar edtech nasional diperkirakan mencapai nilai sekitar USD 3,2 miliar pada 2024 dan berpotensi meningkat hingga USD 8,8 miliar pada 2033.
Namun pertumbuhan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi yang sama di seluruh wilayah. Platform edtech populer seperti Ruangguru dan Zenius memang banyak digunakan di kota-kota besar, tetapi tidak semua sekolah di daerah memiliki akses teknologi yang memadai.
Di sejumlah wilayah, sekolah baru mulai memperoleh fasilitas laboratorium komputer melalui program pemerintah. Dalam kondisi tersebut, ketersediaan perangkat lunak pembelajaran yang dapat digunakan secara langsung menjadi kebutuhan tersendiri.
"Ketika kami pertama kali mengembangkan SIDIA, motivasinya sederhana. Banyak sekolah di daerah sudah memiliki laboratorium komputer dari pengadaan DAK, tetapi perangkat lunaknya belum tersedia atau tidak relevan," ungkap Founder Arfadia sekaligus pengembang SIDIA Tessar Napitupulu kepada wartawan, Selasa 10 Maret 2026.
Salah satu implementasi SIDIA yang pernah dilakukan adalah di Kabupaten Barito Selatan. Program tersebut diluncurkan oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pendidikan.
Peluncuran program di wilayah tersebut diresmikan oleh Bupati Barito Selatan, Eddy Raya Samsuri, dan dibuka oleh Wakil Bupati Satya Titiek Atyani Djoedir bersama Kepala Dinas Pendidikan daerah, Manat Simanjuntak.
Dalam implementasinya, SIDIA Cloud diadaptasi menjadi program yang dikenal sebagai 'Kartu Pintar'. Sistem ini berfungsi sebagai sarana komunikasi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, serta orang tua siswa.
Untuk mendukung penggunaan sistem tersebut, pelatihan juga diberikan kepada para guru dan kepala sekolah. Kegiatan pelatihan berlangsung selama dua hari di aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat dan diikuti oleh peserta dari tingkat SD dan SMP.
Menurut pihak pengembang, hingga saat ini SIDIA telah diimplementasikan di sejumlah kabupaten dan kota di berbagai provinsi di Indonesia, meskipun tidak semua program tersebut dipublikasikan secara luas.
Kehadiran software seperti SIDIA juga mencerminkan dinamika dalam industri teknologi pendidikan di Indonesia. Selama ini, sebagian besar platform edtech lebih banyak menyasar pengguna individu melalui sistem berlangganan.
Sebaliknya, software yang digunakan di sekolah melalui pengadaan pemerintah memiliki karakteristik berbeda. Prosesnya harus mengikuti regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah serta menyesuaikan dengan kebutuhan kurikulum nasional.
Selain itu, perangkat lunak tersebut juga perlu dirancang agar dapat berjalan di lingkungan teknologi yang terbatas. Tidak semua sekolah memiliki koneksi internet stabil, sehingga sistem pembelajaran digital perlu tetap dapat digunakan secara optimal.
Pemerintah sendiri menargetkan sekitar 300.000 sekolah di Indonesia dapat terhubung dengan internet pada akhir 2025. Program tersebut juga mencakup pengembangan kelas digital interaktif di berbagai daerah.
Namun berdasarkan data Direktorat Sekolah Dasar, jumlah sekolah yang memiliki perangkat komputer memadai masih relatif terbatas. Dari hampir 149.000 sekolah dasar di Indonesia, baru sekitar 10.000 sekolah yang memiliki perangkat komputer atau laptop yang cukup untuk mendukung pembelajaran digital.
Kesenjangan infrastruktur tersebut sekaligus menjadi tantangan dalam penerapan teknologi pendidikan. Selain ketersediaan perangkat, keberlanjutan penggunaan software juga menjadi faktor penting.
Perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, serta kebutuhan siswa yang terus berkembang membuat perangkat lunak pembelajaran perlu terus diperbarui.
Lebih jauh, Tessar menyebutkan bahwa sistem dalam SIDIA dirancang agar guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran sesuai kebutuhan kelas.
"Konten di dalam sistem ini bisa diedit dan ditambahkan oleh guru sendiri. Kami tidak ingin ini menjadi produk yang hanya digunakan sementara lalu ditinggalkan," kata Tessar menjelaskan.
Dengan pertumbuhan industri edtech yang diperkirakan mencapai tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 11,79 persen hingga 2033, kebutuhan terhadap solusi pembelajaran digital di sekolah diperkirakan akan terus meningkat.
Pada akhirnya, tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana perangkat tersebut dapat digunakan secara efektif dan berkelanjutan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari.