Sawah Tetap Milik Petani, Pringsewu Siapkan Pengelolaan Pertanian Terintegrasi

  • 04 Okt 2026 14:06 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Pemerintah Kabupaten Pringsewu menyiapkan model baru pengelolaan pertanian dengan mengonsolidasikan lahan, produksi hingga pemasaran dalam satu sistem berbasis koperasi. Dalam tiga sampai lima tahun ke depan, kawasan pertanian yang dikelola secara terintegrasi itu ditargetkan mencapai 3.000 hektare.

Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas menegaskan, konsep tersebut bukan berarti menggabungkan kepemilikan sawah milik para petani. Lahan tetap menjadi hak masing-masing petani, sementara yang dikonsolidasikan adalah cara pengelolaannya.

“Di sinilah saya ingin menegaskan satu hal penting bahwa pengembangan kawasan ini adalah konsolidasi pengelolaan, bukan penggabungan kepemilikan lahan, karena sawah tetap milik petani masing-masing, tetapi yang disatukan adalah cara mengelolanya,” kata Riyanto, , Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurut Riyanto, model tersebut diperlukan karena pertanian di Pringsewu masih menghadapi sejumlah persoalan. Lahan pertanian yang relatif kecil dan tersebar membuat pengelolaan usaha tani belum efisien. Kondisi itu diperparah dengan penggunaan alat mesin pertanian yang belum terintegrasi serta tingginya biaya input dan tenaga kerja.

Persoalan lain yang perlu diperkuat adalah pembiayaan, pascapanen dan pemasaran hasil pertanian. Karena itu, pemerintah daerah ingin mengubah pola pengelolaan yang selama ini banyak berjalan secara individual menjadi lebih terkonsolidasi melalui kelembagaan ekonomi petani.

“Kunci keberhasilannya ada pada kelembagaan ekonomi petani, mekanisasi, irigasi, pascapanen, pembiayaan dan pasar. Karenanya, keenam unsur ini harus berjalan bersama,” ujar Riyanto.

Pringsewu memiliki modal produksi yang cukup besar untuk mengembangkan konsep tersebut. Data Pemkab mencatat luas panen padi pada 2025 mencapai 24.882 hektare dengan produksi 154.782 ton. Sektor pertanian juga memberikan kontribusi sekitar 23,22 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu.

Riyanto menilai angka tersebut menunjukkan pertanian memiliki posisi strategis, bukan hanya dalam menjaga ketahanan pangan tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah.

“Angka ini menunjukkan bahwa pertanian bukan sekadar pendukung, tetapi tulang punggung perekonomian dan ketahanan pangan. Dengan basis produksi sebesar itu, kita punya modal yang kuat untuk dikembangkan menjadi Kawasan Pertanian Modern Berbasis Koperasi,” katanya.

Melalui kawasan pertanian modern, pengelolaan usaha tani akan diarahkan mulai dari produksi, pembiayaan, penggunaan sarana dan mesin pertanian, pascapanen hingga pemasaran dalam satu manajemen yang lebih terintegrasi. Koperasi menjadi salah satu instrumen penting dalam model tersebut.

Tidak hanya sebagai tempat berhimpun petani, koperasi diharapkan mampu menjalankan fungsi ekonomi secara profesional, termasuk memperkuat akses pembiayaan dan membangun kerja sama dengan offtaker maupun mitra pemasaran. Riyanto mengingatkan agar keberhasilan program tidak hanya diukur dari seberapa luas lahan yang berhasil dikonsolidasikan maupun berapa banyak alat mesin pertanian yang tersedia.

Menurutnya, indikator terpenting justru berada pada manfaat yang dirasakan petani, mulai dari meningkatnya produktivitas, efisiensi biaya, kepastian pasar, nilai tambah hingga peningkatan pendapatan.

“Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari luas lahan yang terkonsolidasi atau jumlah alat mesin pertanian yang tersedia, tetapi dari meningkatnya produktivitas, efisiensi biaya, kepastian pasar, nilai tambah dan pendapatan petani,” ujarnya.

Ia berharap koperasi nantinya benar-benar menjadi penggerak ekonomi petani dan mampu menjalankan tata kelola agribisnis secara transparan.

“Koperasi harus mampu menjadi penggerak ekonomi petani, bukan sekadar tempat berkumpul. Kita bangun semangat Bersatu Mengelola, Profesional Menghasilkan, dan Makmur Bersama, yang sejalan dengan visi Pringsewu Makmur. Mari kita bekerja dengan prinsip kerja bersama, hitung dengan benar, dan bagi hasil dengan adil,” ucapnya.

Pemkab Pringsewu berharap model tersebut dapat memperkuat produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian, sehingga ketahanan pangan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....