Lapas Perempuan Bandar Lampung Perkuat Mental Warga Binaan

  • 03 Okt 2026 14:16 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung: Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung rutin menggelar pembinaan rohani bagi warga binaan sebagai bagian dari upaya memperkuat mental, membentuk akhlak, serta mengubah pola pikir selama menjalani masa pembinaan.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Amiek Diyah Ambarwati, mengatakan kegiatan pembinaan rohani dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Sabtu dan diikuti warga binaan dari berbagai agama.

"Tujuan kita yang paling utama adalah pembekalan mental. Kalau mentalnya kita kuatkan dan kita perbaiki, insyaallah minimal perilakunya akan berubah. Karena yang paling utama dari semua pembinaan itu adalah merubah mental dan merubah mindset," ujar Amiek, Sabtu 3 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, pembinaan rohani tidak hanya diperuntukkan bagi warga binaan beragama Islam, tetapi juga mencakup warga binaan beragama Nasrani dan Buddha.

Menurut Amiek, salah satu perkembangan yang terlihat dari pembinaan tersebut adalah meningkatnya pemahaman warga binaan mengenai adab, etika, dan akhlak.

"Yang paling utama adalah anak-anak itu tahu tentang adab, etika, kemudian tahu tentang akhlak. Karena kalau akhlaknya sudah berubah, minimal ketika seseorang itu melakukan pelanggaran akan berpikir dahulu," katanya.

Selain pembentukan karakter, pembinaan keagamaan juga memberikan dampak pada kemampuan dasar keagamaan warga binaan. Salah satunya melalui pemberantasan buta huruf hijaiyah.

Amiek menyebut sejumlah warga binaan yang sebelumnya belum mampu membaca huruf hijaiyah kini mulai dapat melakukannya. Perubahan juga terlihat dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari.

"Dari anak-anak yang awalnya tidak bisa menjadi bisa. Kemudian tentunya dari biasanya mereka shalat seingatnya, sekarang alhamdulillah bisa melaksanakan shalat lima waktu," ujarnya.

Saat ini terdapat sekitar 231 warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Untuk menjaga efektivitas kegiatan, pembinaan dilakukan dengan sistem bergiliran antarkelompok atau blok.

Menurut Amiek, sistem tersebut diterapkan karena kapasitas tempat pembinaan terbatas. Jika seluruh warga binaan dikeluarkan secara bersamaan untuk kegiatan rutin, konsentrasi peserta dinilai dapat berkurang.

"Kalau kegiatan rutin kita keluarkan semua, anak-anak lebih condong ngobrol. Jadi karena kapasitas tempat kita sedikit, kita bergiliran," jelasnya.

Lapas Perempuan Bandar Lampung memiliki tiga blok warga binaan yang mengikuti kegiatan secara bergantian. Namun, pada kegiatan atau momentum tertentu, seluruh warga binaan tetap dapat mengikuti kegiatan secara bersama-sama.

Selain pembinaan rohani, Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung juga memberikan pelatihan kemandirian. Pelatihan tersebut meliputi memasak, menjahit, membatik, salon, hingga menyulam.

Amiek mengatakan kegiatan kemandirian diarahkan agar warga binaan memiliki keterampilan yang dapat digunakan setelah selesai menjalani masa pidana.

Dalam pelaksanaannya, Lapas Perempuan Bandar Lampung juga menggandeng pihak ketiga untuk mendukung kegiatan keterampilan warga binaan, termasuk dalam pengembangan produk batik dan makanan olahan.

Sementara terkait pelanggaran tata tertib di dalam lapas, Amiek menyebut jumlahnya relatif minim. Ia mengatakan sebagian warga binaan yang melakukan pelanggaran merupakan warga binaan kiriman dari luar daerah sehingga masih membutuhkan proses penyesuaian dengan lingkungan lapas.

"Kalau pelanggaran itu di LPP sebenarnya minim. Kalau pun ada pelanggaran, mungkin satu banding seratus, hanya beberapa orang," ujar Amiek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....