Puisi Hidupkan Kembali Nama Kampung Air Tarung yang Hilang dari Peta

  • 28 Sep 2026 22:08 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandrlampung - Sebuah kampung yang nyaris hilang dari ingatan kembali hidup melalui karya sastra. Kampung Air Tarung di kawasan Suoh, Lampung Barat, yang terdampak bencana pada 1933, dihidupkan kembali melalui puisi karya Sigit Jatmiko berjudul “Air Tarung: Suoh, 1933—Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta.”

Puisi tersebut ditetapkan sebagai Pemenang Utama Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026, setelah melalui proses penjurian terhadap 116 karya yang mengangkat tema “Toponimi Lampung Barat: Cerita, Sejarah, Mitos, dan Legenda Nama-Nama Tempat di Bumi Sekala Brak.”

Penyair dan budayawan Udo Z Karzi dalam catatan penjurian menyebut kekuatan puisi Sigit terletak pada kemampuannya mempertemukan tempat dengan manusia, sejarah dengan ingatan, serta bencana dengan pengalaman kehilangan.

Dalam puisi tersebut, Suoh tidak hanya digambarkan sebagai sebuah wilayah geografis. Air Tarung dan Way Laga dihadirkan sebagai ruang yang menyimpan rumah, keluarga, kehilangan, dan pengalaman manusia.

Peristiwa yang terjadi hampir satu abad lalu tidak disampaikan seperti laporan sejarah, tetapi melalui pengalaman batin manusia yang menghadapi kehancuran dan kehilangan.

Peta, menurut catatan penjurian Udo Z Karzi, hanya mampu menunjukkan garis, titik, dan nama. Sementara puisi berusaha menghadirkan pengalaman manusia yang berada di balik sebuah nama tempat.

Melalui pendekatan tersebut, nama Air Tarung tidak berhenti sebagai sebuah toponimi. Nama itu menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026 sendiri menerima 116 karya. Setelah melalui proses seleksi, dewan juri menetapkan 10 nomine dan 60 puisi pilihan.

Kesepuluh nomine tersebut antara lain A’yat Khalili, Bambang Widiatmoko, Christya Dewi Eka, Husni Hamisi, M. Anton Sulistyo, Muhammad Sarjuli, Sigit Jatmiko, Toto ST Radik, Zabidi Yakub, dan Zaky Satria.

Karya-karya tersebut menghadirkan beragam cara dalam membaca Lampung Barat, mulai dari sejarah, mitologi, bahasa Lampung, adat, legenda, hingga pengalaman manusia dalam memaknai tempat dan asal-usul.

Penetapan penghargaan dilakukan di Bandar Lampung pada 24 September 2026. Sigit Jatmiko sebagai Pemenang Utama memperoleh hadiah uang sebesar 2,5 juta rupiah, buku digital, dan sertifikat.

Sementara sembilan nomine lainnya masing-masing memperoleh 250 ribu rupiah, buku digital, dan sertifikat. Sebanyak 60 puisi pilihan memperoleh buku digital dan sertifikat.

Karya “Air Tarung” menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak selalu harus bertahan dalam bentuk fisik untuk tetap dikenang.

Melalui puisi, nama sebuah kampung dapat kembali disebut, kisahnya kembali didengar, dan pengalaman manusia yang pernah hidup di dalamnya kembali memperoleh ruang dalam ingatan.

Dengan demikian, sastra tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga dapat menjadi salah satu cara untuk merawat sejarah, identitas, dan ingatan tentang sebuah tempat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....