Panen Cabai Perdana , BI dan Polinela Dorong Pesantren Jadi Penggerak Ekonomi Umat
- 03 Sep 2026 21:59 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID,, Bandar Lampung — Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bersama Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Lampung dan para santri melaksanakan panen cabai perdana di Pondok Pesantren Wali Songo, Sukajadi, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa, 1 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Santri Bangun Ketahanan Inflasi (SANG BUMI) yang diinisiasi Bank Indonesia dengan melibatkan Polinela. Program ini bertujuan mendorong pondok pesantren menjadi salah satu motor penguatan ekonomi umat sekaligus berkontribusi dalam pengendalian inflasi daerah.
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut adalah pengembangan budidaya cabai di lingkungan pondok pesantren. Cabai dipilih karena merupakan salah satu komoditas pangan yang turut memengaruhi pergerakan inflasi.
Tim Pelaksana Program dari Polinela yang diketuai Dr. Sri Handayani, S.P., M.E.P., mengatakan Polinela melibatkan dosen dari bidang Hortikultura, Agribisnis, dan Teknologi Pangan. Selain itu, Polinela juga menghadirkan praktisi untuk memberikan pengetahuan dan pendampingan kepada para santri.
Menurut Sri Handayani, kegiatan budidaya cabai menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai inflasi. Melalui program tersebut, para santri tidak hanya memahami konsep inflasi, tetapi juga belajar memproduksi cabai secara mandiri sehingga kebutuhan konsumsi di lingkungan pesantren dapat dipenuhi dari hasil budidaya sendiri.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo mengatakan pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat para santri mempelajari ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Menurut Bimo, program SANG BUMI berangkat dari potensi pesantren yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi melalui berbagai unit usaha produktif.
“Karena kami melihat bahwa pondok pesantren itu bisa menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi. Ekonomi masyarakat yang mengandalkan santri di pondok pesantren, tapi juga harapannya nanti bisa menggerakkan masyarakat sekitar,” ujar Bimo.
Bimo menjelaskan, Program SANG BUMI melibatkan 10 pondok pesantren yang tergabung dalam Koperasi Sekunder Syirkah Bisnis Pesantren (Hebitren), ditambah satu pondok pesantren di luar jaringan tersebut.
Sebanyak 11 pesantren mulai mengikuti program sekitar tiga bulan lalu melalui pemberian benih, pelatihan, serta pendampingan budidaya yang dilakukan bersama Pusat Inkubator Bisnis Politeknik Negeri Lampung (Polinela).
Panen cabai di Pondok Pesantren Wali Songo menjadi panen perdana dari pelaksanaan pilot project tersebut.
“Ini yang perdana, karena inisiatif ini dimulai sekitar tiga bulan yang lalu. Dari 11 pondok pesantren, hari ini dilakukan panen perdana di salah satu pondok pesantren, yaitu di Pondok Pesantren Wali Songo di Lampung Tengah,” jelas Bimo.
Ia berharap program tersebut dapat direplikasi dan diperluas ke lebih banyak pondok pesantren, sehingga terbentuk ekosistem produksi cabai yang semakin kuat di Provinsi Lampung.
Menurut Bimo, peningkatan produksi cabai di lingkungan pesantren diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga dapat memasok kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan cabai dari luar daerah dapat dikurangi.
“Harapannya apabila ini direplikasi dan diperluas tidak hanya di masing-masing pondok pesantren, tapi juga nanti bisa diikuti oleh pondok pesantren lainnya, nanti akan tercipta suatu ekosistem produksi cabai yang lebih kokoh di Provinsi Lampung,” katanya.
Ia menambahkan, ketersediaan cabai yang lebih dekat dengan konsumen juga diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga. Masyarakat sekitar pesantren nantinya dapat memperoleh pasokan cabai tanpa seluruh kebutuhan harus dipenuhi melalui pasar.
“Jadi masyarakat tidak harus ke pasar untuk membeli cabai. Kalau tadi bisa lari ke pondok pesantren, artinya harga yang ada di pasar itu mungkin tidak terlalu bergejolak,” ungkapnya.
Bimo mengatakan pengembangan program dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, masing-masing pesantren memanfaatkan lahan sekitar 300 meter persegi untuk budidaya cabai.
Pondok Pesantren Wali Songo sendiri telah menyiapkan lahan tambahan untuk memperluas produksi. Perluasan lahan akan dilakukan secara bertahap dengan melihat perkembangan budidaya di masing-masing pesantren.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Lampung Tengah, Syaikhul Ulum Syuhada atau Gus Ulum, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, budidaya cabai memberikan pengalaman baru bagi para santri sekaligus membuka potensi keterampilan yang sebelumnya belum terlihat.
“Alhamdulillah kami sangat terbantu dengan adanya program Bank Indonesia ini karena di lingkungan pesantren, budidaya lombok ini merupakan pelajaran baru. Sehingga ternyata kami menemukan potensi anak dalam keahlian mereka yang sebelumnya tidak kita ketahui,” ujar Gus Ulum.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi para santri untuk mempelajari keterampilan di luar pendidikan keagamaan. Ke depan, pihak pesantren juga melihat peluang untuk mengembangkan berbagai usaha produktif lainnya.
Program SANG BUMI diharapkan tidak hanya menjadi upaya edukasi mengenai pengendalian inflasi, tetapi juga mampu melahirkan kemandirian ekonomi pesantren, meningkatkan keterampilan santri, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar pondok pesantren.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....