Lampung Deflasi 0,49 Persen, Terendah di Sumatera Berkat Pasokan Pangan Melimpah
- 03 Agt 2026 20:35 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Provinsi Lampung mengalami deflasi sebesar 0,49 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Penurunan indeks harga konsumen tersebut terutama didorong oleh terjaganya pasokan sejumlah komoditas pangan strategis, khususnya bawang merah dan cabai merah yang tengah memasuki masa panen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Juli 2026 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,55 persen (mtm). Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Lampung tercatat sebesar 1,76 persen, menjadi yang terendah di Sumatera dan berada di bawah inflasi nasional sebesar 2,88 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan deflasi pada Juli terutama dipengaruhi oleh terkoreksinya harga sejumlah komoditas pangan akibat melimpahnya pasokan dari sentra produksi di dalam maupun luar daerah.
"Berdasarkan rilis BPS, Provinsi Lampung pada Juli 2026 mengalami deflasi 0,49 persen (mtm). Kondisi ini utamanya didukung oleh terjaganya pasokan pangan sehingga harga komoditas hortikultura, seperti bawang merah dan cabai merah, mengalami penurunan," kata Bimo dalam siaran pers, Senin 3 Agustus 2026.
Selain bawang merah dan cabai merah, penurunan harga juga terjadi pada daging ayam ras, telur ayam ras, dan tomat. Koreksi harga tersebut dipengaruhi normalisasi pasokan setelah siklus produksi peternakan kembali berjalan serta hasil panen tomat di sentra produksi Lampung Barat.
Meski demikian, BI mencatat masih terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan inflasi. Kenaikan harga beras terjadi akibat pasokan yang masih terbatas menjelang panen gadu pada September 2026. Sementara harga daging sapi meningkat dipengaruhi kenaikan biaya logistik impor. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga mendorong kenaikan harga bensin, sedangkan harga telepon seluler terdampak kenaikan harga komponen chip global.
Bimo mengatakan Bank Indonesia memperkirakan inflasi Lampung hingga akhir 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen. Namun, sejumlah risiko masih perlu diantisipasi, baik dari sisi global maupun domestik.
Risiko tersebut antara lain meningkatnya permintaan domestik, volatilitas harga emas dunia, kenaikan harga bahan baku plastik dan gula rafinasi, potensi kenaikan harga komponen elektronik, ancaman cuaca kering akibat potensi El Nino lemah yang dapat memengaruhi produksi hortikultura, hingga kemungkinan kenaikan harga BBM dan dampak lanjutan penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Langkah yang dilakukan di antaranya optimalisasi operasi pasar beras, penguatan pemantauan harga, pengembangan Toko Inflasi, kerja sama antardaerah untuk komoditas pangan, hingga pemanfaatan platform digital Simpel Aja 2.0 sebagai sistem peringatan dini kondisi pangan.
Menurut Bimo, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan TPID akan terus diperkuat agar stabilitas harga tetap terjaga serta daya beli masyarakat dapat dipertahankan di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....