Pendatang dari Purworejo Jadi Awal Kolonisasi Bagelen Pesawaran pada 1905
- 24 Agt 2026 07:21 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Pesawaran - Hanya 43 orang menjadi rombongan pertama yang tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, pada 1905. Mereka merupakan penduduk asal Bagelen Kedu, Purworejo, Jawa Tengah, yang didatangkan ke Lampung dalam program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda.
Kedatangan rombongan tersebut menjadi awal terbentuknya permukiman Bagelen yang kini telah berkembang menjadi sebuah desa dengan sejarah lebih dari satu abad.
Sekretaris Desa Bagelen, Lasmono, mengatakan para pendatang pertama terdiri atas 40 laki-laki dan tiga perempuan.
“Kalau berdasarkan sejarah yang ada, nenek moyang kami berasal dari Pulau Jawa, kemudian dari Purworejo, Jawa Tengah,” kata Lasmono, Minggu, 23 Agustus 2026.
Berdasarkan catatan sejarah dan arsip desa, rombongan pertama itu dipimpin Tuan Eteeng. Namun, kedatangan penduduk tidak berhenti pada 1905. Setahun kemudian, sebanyak 203 orang atau sekitar 100 kepala keluarga didatangkan di bawah pimpinan Tuan Heers.
Pada 1907, sekitar 100 orang dari 50 kepala keluarga kembali datang dengan pimpinan Tuan Alweek. Kemudian pada 1908, sebanyak 500 orang menyusul di bawah pimpinan Tuan Ba’ang.
Sementara catatan kedatangan pada 1909 hingga 1910 belum tercatat secara lengkap dalam dokumen desa. Lasmono mengatakan, para pendatang tersebut kemudian mulai membangun permukiman dan membuka lahan pertanian di wilayah yang saat itu masih berupa hutan.
Proses tersebut menjadi bagian penting dari terbentuknya Desa Bagelen sekaligus awal kehidupan masyarakat yang kemudian berkembang selama lebih dari satu abad. Pada 1910, pemerintah kolonial Belanda menyerahkan tanah Desa Bagelen kepada masyarakat dengan luas 537 bau atau sekitar 424,6 hektare.
Setiap kepala keluarga memperoleh satu bau tanah, dengan pembagian seperempat bau untuk pekarangan dan tiga perempat bau untuk persawahan serta peladangan. Permukiman itu kemudian berkembang menjadi pemerintahan lokal.
“Dulu belum ada pemilihan. Ketua kampung itu ditunjuk,” ujar Lasmono.
Sejumlah nama kepala desa tercatat sejak masa awal, di antaranya Karto Redjo pada 1905–1907, Sastro Sentiko pada 1907–1912, Pawiro Tinoyo pada 1912–1920 dan Mangun Harjo pada 1920–1945. Lebih dari satu abad berlalu, sejarah kedatangan 43 orang tersebut masih menjadi bagian dari identitas masyarakat Bagelen.
Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, mengatakan sejarah tersebut menjadi warisan yang patut dijaga oleh masyarakat.
“Kita patut bersyukur Desa Bagelen memiliki sejarah yang sangat panjang. Ini menjadi identitas dan kebanggaan bagi masyarakat Bagelen karena sejarahnya tidak dimiliki oleh semua daerah,” kata Merdi.
Menurutnya, sejarah tersebut perlu terus digali dan didokumentasikan agar generasi mendatang mengetahui bagaimana Desa Bagelen terbentuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....