BPBD Lampung Tingkatkan Sistem Peringatan Dini Antisipasi Erupsi GAK

  • 18 Agt 2026 17:47 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang beberapa kali mengalami erupsi belakangan ini.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan, pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops).

"Memang beberapa bulan terakhir ini beberapa kali Gunung Anak Krakatau itu erupsi," kata Rudy kepada RRI, Selasa, 18 Agustus 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, saat memberikan keterangan. (Foto:RRI/Galih Prihantoro)

Menurutnya, BPBD Lampung juga telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi apabila terjadi peningkatan eskalasi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Langkah kesiapsiagaan menjadi perhatian karena wilayah pesisir Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu daerah yang berpotensi terdampak apabila erupsi Gunung Anak Krakatau memicu peningkatan tinggi gelombang.

Rudy mengatakan, sejumlah sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) telah dipasang di beberapa titik wilayah pesisir Lampung Selatan.

"Di beberapa titik kami sudah pasang early warning system, bantuan dari Bank Dunia, IDRIP, melalui BNPB," ujarnya.

Saat ini terdapat enam titik EWS yang ditempatkan di kawasan pesisir. Sistem tersebut berfungsi memberikan informasi awal kepada masyarakat apabila terjadi kondisi yang berpotensi menimbulkan dampak, khususnya terkait peningkatan tinggi gelombang.

Diperkuat Desa Tangguh Bencana

Selain memasang sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat di wilayah pesisir Lampung Selatan juga terus diperkuat melalui Desa Tangguh Bencana (Destana).

Rudy menyebut, sejumlah Destana telah terbentuk di Lampung Selatan melalui dukungan program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) serta sejumlah organisasi nonpemerintah atau NGO.

Penempatan EWS juga diarahkan ke wilayah desa yang telah memiliki predikat sebagai desa tangguh.

Dengan keberadaan Destana tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi ketika terjadi bencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melakukan langkah mitigasi secara mandiri di wilayah masing-masing.

"Jadi masyarakat itu sudah terbiasa terlatih, ketika ada suatu kejadian misalnya mereka bisa bangkit dan bahu membahu untuk melakukan mitigasi di wilayahnya," jelas Rudy.

BPBD Lampung memastikan koordinasi dan pemantauan akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi kemungkinan dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat sekaligus meminimalkan risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang berdampak terhadap wilayah pesisir Lampung Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....