Merawat Karawitan di tengah Zaman, Sanggar Merah Putih Jaga Tradisi Lintas Budaya
- 10 Agt 2026 07:38 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Pringsewu - Denting gamelan perlahan mengisi ruang latihan. Di antara tabuhan yang lekat dengan tradisi Jawa itu, ada semangat lain yang terus tumbuh di Sanggar Seni Merah Putih, Pekon Tulung Agung, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
Sanggar ini memang lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang mayoritas berlatar budaya Jawa. Karawitan menjadi salah satu akar kesenian yang mereka pelihara sejak awal.
Namun perjalanan delapan tahun membuat Sanggar Merah Putih tidak berhenti pada satu akar budaya.
Mereka mulai membuka ruang bagi budaya lain, termasuk budaya Lampung yang menjadi identitas daerah tempat mereka tumbuh.
Gamelan Jawa kemudian dipertemukan dengan gamolan Lampung. Kuda kepang berdampingan dengan unsur tapis dalam kostum. Bahkan dalam sejumlah pertunjukan, unsur Jawa, Lampung, Bali, Batak hingga Sunda dirangkai menjadi satu sajian.
Bagi Sanggar Merah Putih, menjaga tradisi bukan berarti menutup diri dari budaya lain.
Justru dari perbedaan itulah mereka mencoba menciptakan karya baru.
Berawal dari Satu Abad Pekon
Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Eka Bima Prasetya, masih mengingat bagaimana kelompok itu pertama kali terbentuk pada 2018.
Saat itu, Pekon Tulung Agung tengah merayakan satu abad berdirinya pekon. Berbagai kelompok seni yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri dikumpulkan untuk membuat sebuah pertunjukan bersama.
Ada hadroh, keroncong, band, dangdut, kuda kepang hingga kelompok wayang kulit.
Mereka kemudian membuat sebuah pertunjukan berbentuk orkestra dengan menggabungkan berbagai elemen musik tersebut.Pementasan berjalan sukses.
Namun setelah panggung ditutup, muncul gagasan yang justru menjadi awal perjalanan panjang mereka.
Para perwakilan kelompok seni duduk bersama dan sepakat untuk tidak berhenti pada satu pertunjukan.
Mereka membentuk Sanggar Seni Merah Putih.
“Setelah acara itu selesai, kami kumpul dengan perwakilan dari masing-masing elemen musik. Kemudian muncul gagasan bagaimana kalau ini diteruskan dengan membuat organisasi sanggar seni,” kata Eka.
Nama Merah Putih dipilih karena sanggar tersebut lahir berdekatan dengan momentum perayaan kemerdekaan pada Agustus 2018.
Kini, delapan tahun berselang, hampir 150 orang tercatat menjadi bagian dari sanggar tersebut.
Tidak semuanya berasal dari Pekon Tulung Agung. Sejumlah anggota bahkan datang dari luar daerah, termasuk Tanggamus dan Pesawaran.
Mereka datang karena pernah melihat penampilan Sanggar Merah Putih atau menemukan aktivitas sanggar melalui media sosial.
Ketika Karawitan Jawa Bertemu Gamolan Lampung
Di antara berbagai kesenian yang dikembangkan, karawitan tetap menjadi salah satu napas utama Sanggar Merah Putih.
Bagi Eka, hal itu tidak terlepas dari lingkungan masyarakat Tulung Agung yang mayoritas Jawa.
Namun menjadi bagian dari masyarakat Lampung membuat mereka merasa perlu mengenal sekaligus ikut menjaga budaya daerah.
Karena itu, sekitar dua tahun terakhir mereka mulai memiliki gamolan Lampung dan menjadikannya bagian dari perjalanan musikal sanggar.
“Awalnya kami memang dari karawitan, karena di sini mayoritas Jawa. Tapi semakin ke sini kami mengembangkan, salah satunya gamolan Lampung,” ujarnya.
Tidak berhenti pada memiliki alat musik, mereka mencoba mempertemukan karakter gamolan Lampung dengan gamelan Jawa.
Sebuah karya kolaborasi bahkan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan untuk disiapkan.
Eka bersama para seniman menyusun konsep, mencoba komposisi, berlatih dan meminta masukan dari pembimbing sanggar yang juga seorang musisi sekaligus dalang wayang kulit lulusan SMKI Yogyakarta.
Proses itu menjadi tantangan tersendiri.
Sebab bagi mereka, menggabungkan dua budaya bukan sekadar memainkan dua jenis musik secara bersamaan.
Ada karakter, pakem dan identitas yang harus tetap dihormati.
“Kami mengambil risiko untuk membuat sebuah karya supaya nanti bisa diterima,” kata Eka.
Keberanian itu pula yang mereka bawa ketika dipercaya tampil dalam program kebudayaan di luar daerah.
Mereka berusaha menghadirkan sesuatu yang tidak sekadar mengulang karya lama, tetapi menawarkan pertemuan budaya yang lahir dari lingkungan mereka sendiri.
Tapis di Tengah Kuda Kepang
Pertemuan budaya tidak hanya terjadi melalui bunyi musik. Kostum pun menjadi bagian dari cara Sanggar Merah Putih menyampaikan pesan keberagaman.
Merita Suci Triasi, yang menangani bidang kostum dan tata rias, mengatakan beberapa penampilan mereka memadukan unsur budaya dari berbagai daerah.
Ada Jawa, Lampung, Bali, Batak hingga Sunda.
Dalam pertunjukan kuda kepang, misalnya, unsur Lampung ditampilkan melalui penggunaan kain tapis sebagai bagian dari kostum.
“Yang kita tonjolkan dari Lampung itu tapis. Yang laki-laki pakai selempang dari potongan tapis Lampung,” ujar Merita.
Kuda kepang tetap menjadi salah satu identitas utama pertunjukan. Namun di dalamnya, mereka menyelipkan identitas Lampung sebagai tanah tempat mereka berkesenian.
Bagi Sanggar Merah Putih, itu menjadi bentuk sederhana untuk menunjukkan bahwa menjadi bagian dari komunitas Jawa tidak berarti harus mengabaikan budaya Lampung.
Dua identitas tersebut justru bisa berjalan beriringan.
Dari Murid Menjadi Pelatih
Di balik pertunjukan yang terlihat meriah, ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi: regenerasi.
Sebagian besar peserta tari di Sanggar Merah Putih masih duduk di bangku SD dan SMP. Peserta paling dewasa berada di tingkat SMA.
Mereka datang untuk belajar gerakan tari, musik, hingga tata rias.
Namun secara perlahan, mereka juga belajar disiplin dan bekerja bersama.
Wakil Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Dwi Prasetyo, mengatakan membangun kedisiplinan anak-anak menjadi salah satu tantangan tersendiri.
“Anak-anak kan masih anak-anak. Kita pelan-pelan membentuk kebiasaan, disiplinnya itu yang perlu,” ujarnya.
Proses regenerasi itu kini mulai terlihat. Anak-anak yang dahulu menjadi murid perlahan tumbuh dan ikut melatih generasi berikutnya.
Eka yang pada awalnya melatih tari bersama sang istri kini telah menggandeng sekitar enam hingga tujuh orang pelatih.
Artinya, pengetahuan tidak berhenti pada satu generasi.Ia berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Hal yang sama dilakukan dalam tata rias.
Merita mengajarkan para penari agar mampu merias diri sendiri ketika hendak tampil.
Tujuannya sederhana: agar mereka tidak selalu bergantung kepada orang lain.
“Paling tidak mereka bisa makeup sendiri. Jadi tidak cuma bergantung pada satu atau dua orang yang makeup-in mereka,” katanya.
Namun bagi Merita, pelajaran terpenting yang diberikan sanggar bukan hanya kemampuan menari atau merias wajah. Anak-anak juga diajarkan unggah-ungguh dan sopan santun.
“Di sanggar seni Merah Putih tidak cuma belajar seni dan budaya, tapi juga belajar unggah-ungguh, sopan santun, bagaimana anak-anak bisa jadi anak yang baik,” ujarnya.
Di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan gawai, sanggar menjadi ruang alternatif untuk berkegiatan, berinteraksi dan mengenal budaya.
Menjaga Tradisi, Menciptakan Masa Depan
Sanggar Seni Merah Putih kini berada di bawah naungan Pekon Tulung Agung. Dukungan pemerintah desa dan pemerintah daerah membuat mereka perlahan memiliki peralatan sendiri. Jika sebelumnya harus meminjam gamelan dan berbagai alat musik untuk tampil, kini sejumlah peralatan telah tersedia.
Namun masih ada satu persoalan yang mereka harapkan dapat teratasi: tempat latihan. Saat ini mereka masih menggunakan fasilitas desa yang berada di lingkungan permukiman padat.
Latihan intensif menjelang pertunjukan terkadang harus berlangsung hingga malam. Kondisi itu membuat suara latihan berpotensi mengganggu warga sekitar.
Karena itu, Eka berharap suatu saat Sanggar Merah Putih memiliki ruang latihan sendiri, bahkan jika memungkinkan dengan fasilitas yang lebih kedap suara.
“Kami ingin punya tempat latihan khusus di Pekon Tulung Agung, seperti teman-teman sanggar di Jogja dan Solo yang punya tempat latihan kedap suara,” katanya.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi mereka, ruang latihan bukan hanya tempat menyimpan gamelan atau berlatih tari.
Di sanalah generasi muda belajar mengenal akar budayanya. Di sanalah seorang murid bisa tumbuh menjadi pelatih. Di sana pula gamelan Jawa dapat bertemu gamolan Lampung tanpa harus saling menghilangkan.
Sanggar Merah Putih pada akhirnya tidak sekadar mempertahankan kesenian yang sudah ada. Mereka mencoba membuat tradisi tetap hidup dengan cara yang sesuai dengan zaman: terbuka terhadap kolaborasi, memberi ruang bagi generasi muda dan tetap berpijak pada budaya tempat mereka berada.
Sebab bagi para seniman di Tulung Agung, melestarikan budaya bukan tentang memilih mana yang paling utama. Karawitan Jawa tetap menjadi akar. Budaya Lampung tetap menjadi identitas tanah tempat mereka tumbuh.
Sementara keberagaman menjadi ruang untuk terus menciptakan karya. Dari sana, Sanggar Seni Merah Putih menemukan cara mereka sendiri untuk menjaga tradisi: bukan dengan membekukannya di masa lalu, tetapi membuatnya terus berbunyi, bergerak dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....