Kekeringan Ancam Sawah di Pringsewu, Petani Khawatir Hasil Panen Menurun
- 07 Agt 2026 13:40 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Pringsewu - Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Pringsewu. Sejumlah lahan persawahan mengalami kekeringan akibat menurunnya debit air irigasi, membuat petani khawatir produksi padi musim tanam kali ini merosot, bahkan terancam gagal panen.
Salah seorang petani di Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu, Hanif, mengatakan kondisi tersebut mulai dirasakan sekitar dua bulan terakhir. Jika sebelumnya saluran irigasi masih mampu mengalirkan air ke sawah, kini debitnya terus menyusut hingga nyaris tidak mengalir.
“Hampir seluruh lahan yang saya garap terdampak kekeringan. Air irigasi sekarang sudah sangat minim,” kata Haniff, Jum’at 7 Agustus 2026.
Menurut Hanif, kekeringan datang di saat tanaman padi memasuki fase keluar malai atau pembentukan bulir, yang membutuhkan pasokan air cukup agar pertumbuhan padi berlangsung optimal. Akibat kekurangan air, sebagian tanaman mulai mengering dan proses pengisian bulir padi tidak berlangsung maksimal. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap hasil panen.
Untuk mempertahankan tanaman tetap hidup, para petani terpaksa memanfaatkan pompa air dari sumur sebagai sumber air alternatif. Namun upaya itu belum mampu menjangkau seluruh lahan karena ketersediaan air terbatas.
“Kami menggunakan pompa air dari sumur, tetapi airnya tidak cukup untuk semua sawah. Biayanya juga mencapai jutaan rupiah karena pompa harus menyala lama dan membutuhkan banyak bahan bakar atau listrik,” ujarnya.
Hanif memperkirakan hasil panen musim ini akan menurun apabila dalam waktu dekat tidak turun hujan atau tidak ada tambahan pasokan air. Bahkan, sebagian lahan berpotensi mengalami gagal panen jika kondisi kekeringan terus berlanjut. Tidak hanya mengancam produksi padi, kekeringan juga diperkirakan memengaruhi jadwal musim tanam berikutnya. Sejumlah petani memilih menunda penanaman hingga kondisi air kembali mencukupi agar tidak mengalami kerugian lebih besar.
Di sisi lain, beban ekonomi petani ikut meningkat. Pengeluaran membengkak akibat penggunaan pompa air, sementara hasil panen diperkirakan tidak akan sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Hingga kini, Hanif mengaku belum menerima bantuan maupun penanganan khusus dari pemerintah terkait dampak kekeringan di wilayahnya.
“Kalau sampai terjadi gagal panen, kami berharap ada bantuan agar petani tetap bisa melanjutkan usaha taninya,” harapnya.
Sementara itu, seorang warga Pringsewu, Andre, menilai kondisi kekeringan yang terjadi saat ini perlu menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan pangan dan perekonomian masyarakat.
“Kasihan petani, mereka sudah mengeluarkan biaya besar sejak awal tanam. Kalau sampai gagal panen tentu kerugiannya tidak sedikit. Semoga pemerintah bisa segera turun membantu, baik untuk mengatasi kekeringan maupun meringankan beban para petani,” ujar Andre.
Andre berharap langkah penanganan dilakukan secepat mungkin, mulai dari optimalisasi distribusi air irigasi, bantuan pompa air, hingga perbaikan jaringan irigasi di wilayah-wilayah yang terdampak, agar aktivitas pertanian tetap berjalan selama musim kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....