DJPb: Ekonomi Lampung Tetap Tangguh di tengah Ketidakpastian Global

  • 06 Jul 2026 11:03 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Ketidakpastian perekonomian global belum sepenuhnya mereda. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, dinamika perdagangan internasional, hingga fluktuasi harga komoditas dunia masih menjadi tantangan yang memengaruhi aktivitas ekonomi Provinsi Lampung.

Meski begitu, Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung menyatakan berbagai indikator menunjukkan ekonomi Lampung tetap kuat. Konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama, sektor investasi terus tumbuh positif, dan inflasi bergerak naik terkendali.

Dalam kondisi tersebut, APBN hadir sebagai instrumen fiskal yang menjaga perputaran roda perekonomian berjalan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Dalam rilis resmi DJPb Lampung, perekonomian dunia masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Perlambatan perdagangan internasional, tingginya ketidakpastian geopolitik, serta pergerakan harga komoditas global masih memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi di banyak negara.

“Bagi Lampung yang memiliki basis ekonomi pada sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan, dinamika tersebut menjadi tantangan yang perlu terus diantisipasi,” demikian rilis resmi dari DJPb Lampung, Senin, 6 Juli 2026.

Di sisi lain, kabar baik datang dari perdagangan internasional, di mana kegiatan ekspor dan impor Lampung menunjukkan peningkatan signifikan. Sampai dengan April 2026, aktivitas ekspor meningkat hingga 29,91% (mtm) dan 43,29% (yoy) didukung peningkatan ekspor industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian.

Sementara aktivitas impor tumbuh dengan kenaikan 37,69% (mtm) dan 51,56% (yoy) didukung peningkatan impor konsumsi dan bahan baku penolong. Dengan demikian, Lampung mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$332,19 juta pada perdagangan bulan April 2026.

Fondasi Ekonomi Lampung Kuat, Inflasi Naik Namun Tetap Terkendali

Kondisi global yang tidak menentu memberikan tekanan pada sektor riil berbagai daerah, termasuk Provinsi Lampung. Namun, fondasi ekonomi Lampung menunjukkan ketahanan.

Ekonomi Triwulan I 2026 tetap tumbuh, didukung konsumsi rumah tangga yang kuat, hingga mencapai 64,05% dari aktivitas ekonomi regional dan tumbuh 5,54% dibandingkan tahun lalu. Selain itu, investasi masuk juga tumbuh 4,39% (yoy).

Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 1,94% (yoy) dan 0,82% (mtm) hingga akhir Mei 2026. Inflasi bulanan disebabkan kenaikan harga minyak goreng, cabai rawit, bawang merah, tomat dan cabai merah.

Overview APBN Mei 2026 Regional Lampung: Pendapatan Dalam Negeri Tumbuh, Belanja Tetap Akseleratif

Kinerja APBN Regional Lampung hingga 31 Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan positif baik dari sisi pendapatan maupun belanja.

Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp4.807,84 miliar atau 35,89% dari target, tumbuh 12,91% (yoy). Pertumbuhan tersebut didukung oleh Pajak Dalam Negeri yang mencapai Rp 3.182,73 miliar dan tumbuh signifikan 31,18% (yoy).

Sementara itu, Pajak Perdagangan Internasional masih mengalami kontraksi -19,01% (yoy) khususnya dari komoditas ekspor. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) bertumbuh 4,66% (yoy) hasil dari pertumbuhan Pendapatan BLU sebesar 14,90% (yoy). Pada sisi Belanja Negara, anggaran senilai Rp12.012,30 miliar telah terealisasi.

Anggaran tersebut mencapai 42,92% dari pagu dan tumbuh realisasinya 1,06% (yoy). Realisasi Belanja Pemerintah Pusat mengalami percepatan 36,57% (yoy) senilai Rp 3.673,87 miliar, didukung kinerja positif hampir seluruh jenis belanja.

Di sisi lain, Transfer ke Daerah (TKD) tersalurkan sebesar Rp 8.338,43 miliar, termoderasi -8,45% (yoy) akibat penurunan komponen DBH, DAU, dan Dana Desa.

Hingga akhir Mei 2026, APBN Lampung mencatat defisit sebesar Rp7.204,46 miliar atau 49,38% dari target, menyempit –5,56% (yoy). Defisit tersebut tetap berada dalam koridor yang direncanakan sebagai bentuk kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah memastikan negara tetap hadir untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung pelayanan publik, dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Carbon Trading: Peluang Baru Menuju Ekonomi Hijau Lampung

Di samping menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek, pemerintah juga terus mempersiapkan fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Salah satunya melalui pengembangan perdagangan karbon (carbon trading) yang mulai menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi hijau Indonesia.

Provinsi Lampung memiliki potensi besar untuk berperan dalam pengembangan perdagangan karbon. Kawasan hutan yang luas, ekosistem mangrove di wilayah pesisir, ladang tanaman produktif (kopi, kakao, karet, dsb), dan pengelolaan limbah di Lampung sendiri menghasilkan potensi karbon sebesar 2139 juta (tCO2e) per tahun.

Didukung komunitas lokal yang aktif dalam program perhutanan sosial dan lokasi strategis, pengembangan perdagangan karbon membuka peluang investasi hijau yang mampu menggerakkan ekonomi lewat pembukaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi, dan memperkuat daya saing.

Dalam konteks tersebut, APBN berperan sebagai instrumen pendukung melalui pembiayaan program rehabilitasi lingkungan, penguatan tata kelola, dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam implementasi ekonomi hijau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....