Kapolres Pringsewu Perkenalkan Trilogi Novel Karyanya yang Segera Difilmkan

  • 26 Jun 2026 07:23 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Pagelaran Budaya Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar Polres Pringsewu di Pendopo Kabupaten Pringsewu, Kamis 25 Juni 2026 malam, tak hanya menyuguhkan pertunjukan seni tradisional. Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Pringsewu AKBP M. Yunnus Saputra juga memperkenalkan trilogi novel karya pribadinya yang tengah dipersiapkan untuk diangkat ke layar lebar.

Pengenalan trilogi tersebut ditampilkan melalui pertunjukan teatrikal dan tari yang dibawakan Sanggar Seni Merah Putih. Penampilan itu menjadi salah satu sajian pembuka yang menarik perhatian ribuan penonton yang memadati area pendopo dan alun-alun.

Di hadapan tamu undangan dan masyarakat, Yunnus menjelaskan bahwa pertunjukan yang ditampilkan merupakan adaptasi dari trilogi novel yang ditulisnya, yakni Sang Timur (Kebangkitan dari Pengorbanan Ametis), Sang Barat (Manifestasi 7 Permata), dan Tak Timur Tak Barat (Kembalinya Berlian Kuno).

Menurutnya, ketiga novel tersebut tidak hanya berisi kisah petualangan dan konflik, tetapi juga memuat berbagai pesan mengenai nilai-nilai peradaban, warisan budaya leluhur, dinamika sosial masyarakat, hingga tantangan yang dihadapi generasi masa kini.

“Melalui trilogi ini saya ingin mengangkat kembali berbagai pengetahuan dan warisan yang pernah dimiliki leluhur kita. Ada banyak nilai yang perlahan mulai terlupakan, padahal masih relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang,” kata Yunnus dalam sambutannya.

Kapolres menjelaskan, penampilan yang dibawakan Sanggar Merah Putih malam itu menjadi gambaran awal dari dunia cerita yang dibangun dalam trilogi tersebut. Sejumlah unsur simbolik turut ditampilkan melalui koreografi tari, penggunaan warna, hingga karakter yang merepresentasikan perjalanan tokoh dalam cerita.

Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah penampilan tujuh penari dengan kostum tujuh warna berbeda. Menurut Yunnus, unsur tersebut terinspirasi dari filosofi tujuh energi kehidupan yang dikenal dalam berbagai ajaran dan tradisi leluhur.

“Semua unsur yang ditampilkan memiliki makna dan filosofi tersendiri. Ini bukan sekadar pertunjukan tari, tetapi bagian dari cerita yang lebih besar yang sedang kami bangun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yunnus mengungkapkan bahwa trilogi novel tersebut saat ini tengah dikembangkan ke dalam format pertunjukan yang lebih luas, termasuk produksi film layar lebar. Ia menyebut proses pengembangan naskah dan persiapan produksi terus berjalan dengan harapan dapat membawa karya tersebut ke tingkat nasional sekaligus memperkenalkan potensi budaya Lampung kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat. Insya Allah karya ini akan berkembang menjadi film yang direncanakan tayang di bioskop pada akhir tahun 2026,” katanya.

Menurut Yunnus, jika seluruh tahapan produksi berjalan sesuai rencana, film yang diadaptasi dari trilogi tersebut akan menjadi salah satu karya yang membawa latar, nilai budaya, dan kekayaan kearifan lokal Lampung ke industri perfilman nasional. Penampilan adaptasi trilogi novel tersebut menjadi warna tersendiri dalam Pagelaran Budaya Hari Bhayangkara ke-80.

Di tengah berbagai pertunjukan seni tradisional, masyarakat diajak melihat bagaimana karya sastra dapat dipadukan dengan seni pertunjukan sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Melalui karya tersebut, Yunnus berharap lahir ruang dialog baru antara budaya, pendidikan, dan hiburan sehingga warisan pengetahuan leluhur dapat terus hidup dan dikenal oleh masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....