Lampung Tingkatkan Deteksi Dini Flu Burung
- 22 Jun 2026 20:21 WIB
- Bandar Lampung
RRi.CO.ID, Bandarlampung: Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis melalui penguatan kolaborasi lintas sektor. Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung Menggunakan Joint Outbreak Investigation (JOIN) Tool Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Swiss-Belhotel, Bandarlampung, Senin 22 Juni 2026.
Dalam sambutannya, Jihan menekankan bahwa pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak tentang pentingnya kecepatan respons dan koordinasi dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat.
“Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa kecepatan sangat menentukan, data sangat menentukan, dan koordinasi sangat menentukan keberhasilan pengendalian wabah. Keterlambatan deteksi kasus, informasi yang terfragmentasi, dan respons yang tidak terkoordinasi dapat memperpanjang dampak krisis,” ujar Jihan.
Menurutnya, ancaman flu burung tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga menjadi bagian dari ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan kesiapsiagaan bersama. Karena itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan harus diterapkan secara nyata dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian penyakit.
Jihan menjelaskan bahwa ketika muncul sinyal risiko pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara cepat dan terpadu. Ia menilai koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah sejak dini.
“Ketika sinyal risiko muncul pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara terpadu dan cepat. Karena itu, koordinasi menjadi kunci dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian,” katanya.
Ia menambahkan, investigasi wabah tidak hanya sebatas penelusuran epidemiologis, tetapi juga mencakup pengambilan dan pemeriksaan spesimen, identifikasi faktor risiko, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga pengambilan keputusan berbasis bukti. Seluruh proses tersebut membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
Menurut Jihan, penggunaan JOIN Tool menjadi instrumen penting dalam memperkuat investigasi wabah yang terkoordinasi. Melalui sistem tersebut, berbagai sektor dapat membangun pemahaman situasi yang sama sehingga data yang dihimpun dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan akuntabel.
Lebih lanjut, ia menilai Lampung memiliki posisi strategis dalam upaya penguatan kewaspadaan zoonosis. Tingginya aktivitas peternakan, perdagangan ternak, serta mobilitas manusia dan barang antarwilayah menjadikan kapasitas deteksi dini dan respons terhadap penyakit zoonosis harus terus diperkuat.
“Provinsi Lampung memiliki aktivitas peternakan, perdagangan, dan konektivitas antarwilayah yang tinggi. Karena itu, kapasitas deteksi dini dan respons terhadap penyakit zoonosis harus terus diperkuat,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Jihan menyampaikan apresiasi kepada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia berharap pelatihan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis peserta dalam melakukan investigasi kasus flu burung dan penyakit zoonosis lainnya, tetapi juga membangun budaya kolaborasi yang kuat di berbagai sektor. Para peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan dengan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada rekan kerja, peternak, dan pemangku kepentingan di wilayah masing-masing.
“Kesiapsiagaan dibangun ketika krisis belum terjadi, bukan saat krisis datang. Pelatihan, simulasi, surveilans, pertukaran data, dan kepercayaan antar lembaga merupakan investasi penting bagi ketahanan kesehatan Provinsi Lampung,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Rebecca D. Merrill, mengatakan influenza burung dan berbagai penyakit zoonosis lainnya masih menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun kawasan regional.
Menurut Rebecca, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai investigasi wabah yang terkoordinasi lintas sektor, memperkuat keterampilan penggunaan JOIN Tool, serta mempersiapkan peserta menjadi pelatih di daerah masing-masing.
Ia berharap integrasi data dan analisis lintas sektor yang diperkuat melalui pelatihan tersebut dapat meningkatkan kemampuan daerah dalam mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan ancaman zoonosis secara lebih efektif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....