Tak Semua Cocok, Skip Sarapan Berisiko Kesehatan
- 22 Jun 2026 08:10 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Kebiasaan melewatkan sarapan kini banyak dilakukan sebagian orang, terutama mereka yang menjalani pola makan intermittent fasting atau diet tertentu. Namun, kebiasaan tersebut ternyata tidak selalu memberikan dampak positif bagi tubuh.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, mengingatkan bahwa tidak sarapan secara rutin dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan metabolisme gula darah, termasuk prediabetes. Ia menjelaskan bahwa strategi melewatkan sarapan memang dapat membantu sebagian orang mengurangi asupan kalori.
“Skip breakfast TIDAK UNTUK SEMUA ORANG,” tulis dr. Adam di akun X @AdamPrabata.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dengan meningkatnya risiko resistensi insulin. Salah satu penelitian di Korea Selatan terhadap sekitar 12 ribu responden menemukan bahwa orang yang tidak pernah sarapan memiliki risiko 42 persen lebih tinggi mengalami resistensi insulin dibandingkan mereka yang rutin sarapan.
Resistensi insulin terjadi ketika sel tubuh tidak merespons hormon insulin dengan baik, sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikontrol dan berpotensi meningkatkan risiko diabetes. Penelitian lain di Jepang juga menunjukkan remaja yang sering melewatkan sarapan memiliki risiko lebih tinggi mengalami prediabetes.
Menurut dr. Adam, salah satu penyebabnya adalah perubahan metabolisme tubuh saat tidak mendapat asupan makanan dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas yang kemudian mengganggu sensitivitas insulin pada organ penting seperti hati dan otot.
Selain itu, kebiasaan melewatkan sarapan juga disebut dapat memengaruhi ritme sirkadian tubuh yang berperan dalam mengatur fungsi biologis, termasuk kerja insulin.
“Orang yang overweight atau obesitas lebih rentan terhadap efek tidak sarapan karena secara umum memiliki kadar asam lemak bebas yang lebih tinggi dalam darah,” jelasnya.“
Karena itu, dr. Adam mengimbau masyarakat tidak hanya mengikuti tren diet yang sedang populer. Pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan masing-masing agar tetap mendukung kesehatan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....