Harga Gula India Melonjak 40%, Ancam Musim Pesta
- 31 Agt 2026 22:48 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- India mengimpor satu juta ton gula untuk pertama kalinya dalam hampir sepuluh tahun sebagai respons terhadap lonjakan harga yang tajam.
- Harga gula meningkat dari 40-45 rupee per kilogram pada Mei-Juni menjadi 58-60 rupee per kilogram pada Agustus 2025 di berbagai pasar.
- Lonjakan harga dipicu oleh peningkatan permintaan selama musim festival besar (Ganesh Chaturthi, Dussehra, Diwali), musim pernikahan, dan penimbunan stok oleh industri makanan dan minuman.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Pemerintah India memutuskan mengimpor satu juta ton gula untuk pertama kalinya dalam hampir sepuluh tahun, menyusul lonjakan harga yang tajam menjelang musim festival dan pernikahan yang padat.
Harga gula yang semula berkisar 40–45 rupee per kilogram pada Mei–Juni melonjak menjadi 58–60 rupee di berbagai pasar pada Agustus 2025. Kenaikan ini terjadi di saat permintaan meningkat drastis, dipicu oleh serangkaian festival besar seperti Ganesh Chaturthi, Dussehra, dan Diwali, yang disusul musim pernikahan serta penimbunan stok oleh industri makanan dan minuman.
Produksi Meleset dari Target
Produksi gula India pada musim Oktober 2025 hingga September 2026 diperkirakan hanya mencapai 30,6 juta ton, jauh di bawah estimasi awal pemerintah sebesar 34,3 juta ton atau turun sekitar 11 persen.
Ironisnya, India sempat mengekspor 800.000 ton gula di awal musim sebelum akhirnya menghentikan ekspor pada Mei 2025 — saat kekurangan pasokan mulai terasa nyata.
"Dari mengizinkan ekspor di awal musim hingga berakhir dengan impor satu juta ton adalah selisih estimasi produksi yang sangat besar, dan itu mengejutkan," kata Vikram Suryavanshi, analis senior PhillipCapital India.
Faktor El Niño dan Kebijakan Etanol
Pemerintah India menunjuk berkurangnya curah hujan akibat El Niño sebagai penyebab utama turunnya produksi tebu, selain penimbunan dan ketatnya pasokan global. Namun para ahli menilai pemerintah juga terlambat mendeteksi skala kekurangan sebelum mengizinkan ekspor.
Tantangan lain datang dari kebijakan bahan bakar campuran etanol E20 — bensin dengan 20% etanol — yang mulai diterapkan tahun ini. Sekitar tiga juta ton gula diarahkan untuk produksi etanol, makin mempersempit ruang cadangan.
Dampak Global Turut Memperparah
Di tingkat global, pasokan gula juga mengetat. El Niño mengganggu panen tebu di Thailand, hujan lebat menghambat panen di Brasil sebagai produsen terbesar dunia, dan gelombang panas merusak tanaman bit gula di Eropa. Pemerintah AS memperkirakan produksi gula global turun menjadi 184,9 juta ton musim ini dari rekor 186,1 juta ton tahun sebelumnya.
Langkah Darurat Pemerintah
Selama tiga bulan mulai 1 September, kilang gula di kawasan ekonomi khusus dekat pelabuhan diizinkan menjual gula bebas bea ke pasar domestik. Pemerintah juga membatasi stok yang boleh dipegang pedagang dan grosir hanya 400 ton selama tiga bulan untuk menekan penimbunan.
Asosiasi Pabrik Gula India (ISMA) turut meminta pabrik memulai penggilingan tebu dua pekan lebih awal dari biasanya guna membangun stok jelang panen baru Oktober mendatang.
Musim Depan Belum Tentu Membaik
Para ahli mengingatkan bahwa kondisi iklim yang tidak menentu membuat panen musim depan pun tidak menjanjikan hasil besar. Curah hujan yang tidak merata di negara bagian penghasil tebu utama seperti Maharashtra, Uttar Pradesh, dan Karnataka berdampak pada kualitas dan kuantitas panen.
"Melihat kondisi iklim, musim depan juga tidak akan menjadi panen yang berlimpah," ujar Atul Chaturvedi, Direktur Non-Eksekutif Shree Renuka Sugars, perusahaan penyulingan gula terbesar India.
Pelajaran terbesar dari krisis ini, kata Chaturvedi, adalah perlunya kehati-hatian jauh lebih besar dalam memproyeksikan angka produksi gula ke depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....