Iran Siap Hadapi Sanksi Ekonomi "D-Day" Amerika Serikat
- 31 Agt 2026 22:50 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Iran menegaskan kesiapan penuh menghadapi gelombang sanksi ekonomi terbaru yang diluncurkan Amerika Serikat pasca inisiatif 'D-Day Ekonomi'.
- Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh menyatakan bahwa Teheran telah mempersiapkan strategi untuk menghadapi upaya pemutus akses ke sistem keuangan global.
- Iran memprediksi bahwa langkah sanksi ekonomi Amerika Serikat akan berakhir dengan kekalahan bagi Washington, menunjukkan sikap percaya diri pemerintah Iran.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Iran menegaskan kesiapannya menghadapi gelombang sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat, setelah Washington meluncurkan apa yang disebutnya sebagai "D-Day Ekonomi" untuk memutus Iran dari sistem keuangan global.
Menteri Ekonomi Iran, Ali Madanizadeh, menyatakan Teheran "sepenuhnya siap" menghadapi sanksi tersebut dan memprediksi langkah AS justru akan berujung pada "kekalahan lain" bagi Washington.
Sanksi Terbesar Sepanjang Sejarah
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut paket sanksi baru ini sebagai "serangan finansial tunggal terbesar" yang pernah dilancarkan terhadap Iran. Ia menegaskan setiap negara yang bermitra secara finansial dengan Iran akan turut terisolasi, termasuk bank dan perusahaan yang menolak memutus hubungan dengan Teheran.
Dalam operasi yang diberi nama "Operation Economic Outcast" ini, Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap hampir 60 entitas, individu, dan kapal, serta menetapkan pembatasan pada lima sektor: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
"Iran kini menghadapi pilihan yang sangat jelas: isolasi global total, atau jalan kembali menuju normalitas dengan kesempatan bergabung kembali dalam ekonomi dunia," tegas Bessent.
China dan Rusia Tolak Sanksi AS
Namun efektivitas sanksi ini dipertanyakan banyak pihak. Madanizadeh menegaskan bahwa China maupun Rusia tidak menerima langkah AS tersebut, dan memperkirakan negara-negara lain pun akan ikut menolak.
China, pembeli minyak Iran terbesar, secara resmi menyatakan menentang keras apa yang disebutnya "sanksi sepihak ilegal" dari Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jiang, menegaskan tekanan ekonomi tidak akan menyelesaikan masalah.
Para ekonom menilai sanksi ini kemungkinan besar hanya akan berdampak terbatas. David Oxley dari Capital Economics mencatat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran mengalir ke China — negara yang selama ini mengabaikan sanksi AS terhadap Teheran.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Merespons eskalasi tekanan AS, Iran memperingatkan akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan jika perang terus berlanjut. Rezim Iran juga memperbarui peringatan kepada kapal-kapal agar tidak melintas Selat Hormuz tanpa izin.
Selat sempit di selatan Iran itu biasanya menjadi jalur lalu lintas seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Sejak konflik meletus akhir Februari lalu, aliran tersebut terhambat, mendorong harga minyak global melonjak. Pada Senin ini, harga minyak mentah Brent menyentuh 92 dolar AS per barel, sementara harga bensin di AS telah melampaui 4 dolar per galon.
"Kami Tahu Cara Bermain"
Madanizadeh menyatakan pemerintah Iran telah memiliki rencana dua tahun untuk mengelola tekanan ini dan sudah "menunggu lama" untuk menghadapinya.
"Kami juga memiliki alat kami sendiri dan tahu cara memainkan permainan ini," katanya kepada televisi pemerintah Iran.
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai tekanan ekonomi terhadap Teheran "tidak akan berhasil" karena rezim Iran bersedia "menanggung segala penderitaan" dan mengalihkannya kepada rakyatnya sendiri.
Sementara itu, Bessent memastikan AS akan bergerak cepat dalam penegakan sanksi, dan Presiden Trump akan menghubungi para pemimpin dunia secara langsung untuk meminta mereka memutus hubungan dengan Iran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....