Mahkamah Agung AS Tolak Upaya Trump Pecat Pejabat The Fed
- 01 Jul 2026 04:44 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Presiden Donald Trump kembali menelan kekalahan dalam upayanya menundukkan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang selama ini dikenal independen secara politik.
Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Senin (waktu setempat) memutuskan menolak langkah Trump yang berupaya mencopot Gubernur The Fed, Lisa Cook, dari jajaran dewan bank sentral. Putusan dengan komposisi 5-4 suara ini menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Trump dalam upayanya memengaruhi arah kebijakan suku bunga.
Trump sebelumnya berupaya memecat Cook dengan dalih tuduhan penipuan hipotek yang hingga kini belum terbukti dan tidak pernah diajukan ke pengadilan. Ketua Mahkamah Agung John Roberts, yang menulis opini mayoritas, menegaskan bahwa pemerintahan Trump gagal memberikan kesempatan kepada Cook untuk membela diri atas tuduhan tersebut, sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang.
Upaya Politisasi The Fed Berulang Kali Gagal
Sepanjang masa jabatan kedua Trump, ia dan para pendukungnya secara konsisten berupaya menekan The Fed agar menurunkan suku bunga acuan. Namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan.
Setidaknya ada tiga kekalahan beruntun yang dialami Trump terkait The Fed. Pertama, gagal menyingkirkan Lisa Cook dari kursi dewan gubernur. Kedua, Ketua The Fed yang baru diangkatnya, Kevin Warsh, diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga tahun ini. Ketiga, mantan Ketua The Fed Jerome Powell memilih tetap bertahan sebagai anggota dewan gubernur hingga kemungkinan tahun 2028, sehingga menutup peluang Trump menempatkan orang lain di posisi tersebut.
Usai putusan dibacakan, Cook menyebut upaya pemecatan dirinya sebagai "percobaan menyingkirkan saya atas dalih yang direkayasa". Dalam pernyataan resminya, ia juga menegaskan independensi The Fed merupakan kunci kesejahteraan ekonomi rakyat Amerika.
"Saya bersyukur atas putusan ini, bukan demi kepentingan saya pribadi, melainkan demi kesejahteraan ekonomi rakyat Amerika yang bergantung pada bank sentral yang menjalankan misinya, bukan tunduk pada intimidasi politik," ujar Cook.
Putusan Tegaskan Independensi Bank Sentral
Hakim Agung Brett Kavanaugh, yang dikenal beraliran konservatif namun memilih bergabung dengan koleganya yang beraliran liberal dalam putusan ini, memperingatkan bahwa jika Mahkamah Agung memenangkan Trump, hal itu akan membuka preseden berbahaya. Presiden mana pun di masa depan berpotensi memecat pejabat The Fed yang tidak disukainya hanya dengan tuduhan yang sulit dibuktikan maupun dibantah.
Kavanaugh menambahkan, ketidakpastian status The Fed berisiko memicu gejolak politik sekaligus kekacauan di pasar ekonomi domestik maupun global.
Meski demikian, putusan ini sifatnya terbatas karena hanya menyoroti proses pemecatan yang tidak sesuai prosedur hukum, bukan menilai substansi tuduhan terhadap Cook. Mahkamah Agung tidak memutuskan apakah tuduhan penipuan hipotek yang dialamatkan kepada Cook terbukti benar atau tidak.
Trump pun langsung bereaksi melalui media sosial Truth Social, mengisyaratkan akan tetap mengupayakan pemecatan Cook melalui jalur lain. "Kami akan segera mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan seseorang yang telah melakukan kesalahan tidak akan membuat keputusan vital menyangkut kesejahteraan Amerika Serikat," tulis Trump.
Inflasi Tinggi, Peluang Penurunan Suku Bunga Menipis
Selain kekalahan hukum, Trump juga menghadapi kenyataan pahit lainnya. Pejabat The Fed mengisyaratkan tidak berencana menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang dipilih sendiri oleh Trump.
Lebih dari empat bulan sejak perang di Iran berkobar, arus kapal kargo melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis yang menjadi lintasan 20 persen pasokan minyak dunia, masih belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini turut mendongkrak inflasi di Amerika Serikat, dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, mencapai 4,1 persen pada Mei lalu, jauh di atas target 2 persen.
Dampak perang Iran tidak hanya berpotensi menunda penurunan suku bunga hingga 2027, tetapi juga membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Presiden The Fed wilayah Dallas, Lorie Logan, yang memiliki hak suara dalam pengambilan kebijakan enam bulan ke depan, menyebut The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga jika situasi inflasi tidak membaik.
Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, turut menegaskan pentingnya menjaga arah kebijakan moneter saat ini guna mengembalikan inflasi ke target jangka panjang sebesar 2 persen.
Trump sebelumnya kerap mengkritik keras mantan Ketua The Fed Jerome Powell karena dianggap lamban menurunkan suku bunga, bahkan sempat berseloroh akan menggugat Kevin Warsh jika tidak segera memangkas suku bunga acuan. Namun, dengan kondisi inflasi yang masih tinggi akibat dampak perang, posisi Warsh untuk mendorong pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin sulit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....